Haqqnews.co.id – Ekonomi Kota Tanjungpinang yang notabene Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, mencatat rapor merah pada 2025. Pertumbuhannya hanya menyentuh 3,31 persen. Menempatkannya di posisi terbawah dibandingkan kabupaten dan kota lain di Provinsi Kepri.
Laju ekonomi ibu kota Kepri ini tertinggal jauh dari pertumbuhan provinsi yang mencapai 6,94 persen. Angka tersebut bahkan berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Sebaliknya, Kabupaten Kepulauan Anambas memimpin wilayah Kepri dengan lonjakan fantastis 15,54 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren pelemahan di Tanjungpinang sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan merosot dari 2,9 persen pada triwulan I menjadi 2,55 persen pada triwulan III. Meski sempat naik ke 4,97 persen pada triwulan IV, akumulasi tahunan tetap menempatkan kota ini di peringkat buncit.
Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, mengakui struktur ekonomi kota sangat bergantung pada sektor perdagangan dan jasa. “Kita perlu terobosan dan inovasi yang sesuai dengan potensi Tanjungpinang,” tegas Lis, 10 Maret 2026 lalu saat memimpin rapat percepatan ekonomi. Ia mendorong penguatan sektor UMKM untuk mendongkrak daya beli masyarakat.
Staf Ahli Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, menyoroti kesenjangan ekonomi yang mencolok antarwilayah di Kepri. Ia menyarankan pemerintah daerah memperkuat konektivitas antarpulau guna memacu distribusi logistik yang lebih merata. Bappenas juga mendorong digitalisasi layanan publik sebagai daya ungkit pertumbuhan daerah.
Tanjungpinang sebenarnya memiliki modal ekonomi lokal yang unik. BPS mencatat keberadaan lebih dari 600 kedai kopi menjadi kekuatan utama pergerakan ekonomi rakyat. Selain itu, pemerintah kota membidik optimalisasi pariwisata terintegrasi di Pulau Penyengat untuk menambah pendapatan daerah. (*/hq2)

