Haqqnews.co.id – Nilai tukar rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp17.905 pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mata uang Garuda bangkit setelah sempat terpuruk ke titik terendah sepanjang masa di angka Rp18.234.
Bank Indonesia (BI) memicu pembalikan arah ini melalui kebijakan moneter agresif. Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan langkah ini merupakan strategi untuk menstabilkan nilai tukar dari tekanan ketidakpastian global. “Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk kembali menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen demi memperkuat stabilisasi rupiah,” imbuh Perry.
Faktor eksternal turut mendukung penguatan nilai tukar nasional. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda setelah Iran dan Israel menghentikan serangan balasan. Kondisi ini menurunkan indeks dolar AS dan mendorong investor kembali masuk ke pasar negara berkembang.
Sentimen positif juga datang dari kebijakan fiskal pemerintah. Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax menjadi Rp16.250 berhasil memangkas beban subsidi APBN. Analis pasar, Ibrahim Assuaibi, menilai langkah ini mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kredibilitas fiskal Indonesia.
Penguatan rupiah membawa efek positif langsung bagi masyarakat luas. Harga barang impor seperti elektronik dan bahan baku pangan berpotensi menjadi lebih murah karena biaya pengadaan menurun. Hal ini secara otomatis menekan laju inflasi dan menjaga daya beli rumah tangga.
Dunia usaha, khususnya sektor manufaktur, juga merasakan dampak signifikan. Perusahaan kini mengeluarkan biaya lebih rendah untuk mengimpor komponen produksi dan membayar cicilan utang luar negeri dalam denominasi dolar.
Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, optimis tren positif ini akan terus berlanjut. Said menargetkan rupiah dapat kembali ke kisaran Rp17.500 per dolar AS dalam tiga pekan ke depan melalui sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral.(*/hq1)

