back to top
27.2 C
Riau Islands
Rabu 4 Maret 2026
Beranda blog Halaman 33

Sukseskan Anak dengan Amalan Ini

HAQQNEWS.CO.ID – Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi sukses. Berbagai cara pun ditempuh oleh orang tua guna mensukseskan putra-putrinya. Salah satunya yang menjadi tradisi turun temurun, yaitu dengan menghormati ulama, memuliakannya, dan dermawan kepadanya.

Salah satu cara untuk menghormat ilmu adalah dengan menghormati orang-orang yang memiliki ilmu atau ulama. Sebagaimana diulas oleh Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur, dalam NU Online, ada banyak etika saat berhadapan dengan ulama. Di antaranya dengan menghormati, memuliakan, dan mengagungkan mereka.

Dalam tradisi keilmuan Islam tanpa menghormati guru, ilmu yang akan didapatkan seseorang akan menjadi tidak bermanfaat. Ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa hormat pada orang-orang yang berilmu. Di antaranya dengan dermawan dan suka memberi bingkisan kepada mereka, meskipun sedikit. Hal ini menjadi salah satu cara ulama salaf untuk mengekspresikan rasa hormat mereka kepada para ulama.

Dalam salah satu syair disebutkan:

رَأَيْت أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ *** وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ لَقَدْ حَقَّ أَنْ يُهْدَى إلَيْهِ كَرَامَةً *** لِتَعْلِيمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمِ

Artinya, “Tidak ada hak yang lebih besar kecuali hak guru (orang yang berilmu). Ini wajib dipelihara oleh semua umat Islam. Sungguh pantas bila ia diberi sebuah penghormatan, karena mengajar satu huruf dengan hadiah seribu dirham.” (Muhammad Abu Said al-Khadimi, Barîqah Mahmûdiyah fî Syarhi Tharîqah Muhammadiyah wa Syarî’atin Nabawiyah fî Sîratin Ahmadiyah, [Matba’ah al-Hanbali], juz V, halaman 185).

Di Indonesia, kebiasaan memberi bingkisan kepada para ulama sudah menjadi tradisi turun-temurun. Tradisi ini dikenal dengan istilah sowan yang berarti menghadap kepada orang-orang yang berilmu, seperti kiai, ustadz, dan orang-orang yang dimuliakan, lalu bersalaman dan memberikan sejumlah uang kepadanya sebagai bentuk memuliakan dan menghormati ilmu, sekaligus untuk mengharap berkah darinya.

Tradisi semacam ini merupakan salah satu ekspresi memuliakan ilmu, dan sudah dipraktikkan oleh para ulama sejak dahulu. Bahkan, dalam beberapa kitab-kitab dijelaskan, dermawan kepada ulama akan menjadi penyebab anaknya akan tumbuh sebagai orang yang berilmu. Syekh Burhanuddin az-Zarnuji, salah satu ulama tersohor abad kelima dalam salah satu kitab akhlaknya mengutip gurunya yang mengatakan:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُوْنَ اِبْنُهُ عَالِمًا يَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِي الْغُرَبَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَيُكْرِمُهُمْ وَيُعَظِّمُهُمْ وَيُعْطِيْهِمْ شَيْئًا فَاِنْ لَمْ يَكُنْ اِبْنُهُ عَالِمًا يَكُوْنُ حَافِدُهُ عَالِمًا

Artinya, “Barangsiapa yang menghendaki anaknya menjadi orang berilmu, maka hendaklah ia menghormati ahli agama dari kalangan fuqaha, memuliakan, mengagungkan, dan memberi mereka hadiah (dari hartanya). Jika anaknya tidak menjadi orang berilmu, maka cucunya yang akan menjadi orang berilmu.” (Az-Zarnuji, Ta’lîmul Muta’allim fî Tharîqit Ta’allum, [Dar Ibnu Katsir: 2014], halaman 55).

Tidak hanya itu, memberikan bingkisan berupa harta, atau di Indonesia juga masyhur dengan sebutan “amplop” juga menjadi salah satu alternatif untuk menjadikan anak sebagai orang yang berilmu.

Dalam hal ini terdapat kisah yang dicatat oleh Syekh az-Zarnuji, bahwa suatu saat ada orang alim ditanya sebab-sebab ia mendapatkan ilmu. Lalu ia menjawab karena orang tuanya dermawan kepada ulama:

قِيْلَ لِعَالِمٍ: بِمَ أَدْرَكْتَ الْعِلْمَ؟ بِأَبٍ غَنِيٍ. لِأَنَّهُ كَانَ يَصْطَنِعُ بِهِ أَهْلَ الْعِلْمِ وَالْفَضْلِ فَاِنَّهُ سَبَبُ زِيَادَةِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ شُكْرٌ عَلَى نِعْمَةِ الْعَقْلِ وَالْعِلْمِ

Artinya, “Dikatakan kepada orang alim: ‘Dengan apa engkau mendapatkan ilmu?’ (Ia menjawab), ‘Dengan orang tua yang kaya. Ia berbuat baik dengan hartanya kepada orang yang berilmu dan orang mulia. Sebab, hal tersebut menjadi penyebab bertambahnya ilmu, karena telah mensyukuri nikmat akal dan ilmu’.” (Az-Zarnuji, Ta’lîmul Muta’allim, halaman 99).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi sowan dan memberi ‘amplop’ kepada ulama, sebagaimana yang sudah lumrah terjadi di Indonesia, adalah tradisi yang sangat mulia dan diagungkan. Faedahnya akan menjadikan anaknya sebagai orang berilmu, atau jika tidak, maka anak cucunya yang Allah jadikan sebagai orang alim. (HQ1)

Begini Cara Alami Agar Kulit Awet Muda

HAQQNEWS.CO.ID – Daripada mandi air hangat, ternyata lebih baik mandi air dingin di pagi hari. Meski bisa bikin menggigil akan tetapi sangat bermanfaat bagi tubuh. Manfaatnya bisa untuk kesehatan kulit dan awet muda lho.

Hal dijelaskan oleh Pengurus Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dr Citra Fitri Agustina. Ia mengatakan, mandi air dingin merupakan salah satu cara alami untuk menjaga kesehatan kulit. Air dingin ini akan mengirimkan sejumlah besar impuls listrik ke otak dan merangsang pelepasan hormon bahagia atau endorfin, yang menghilangkan stres.

“Ketika bahan kimia ini dilepaskan oleh tubuh, tingkat stres kita akan menurun. Sehingga kita terhindar dari sejumlah masalah kulit seperti jerawat, psoriasis, dan dermatitis,” kata dokter yang karib disapa Civi itu, kepada NU Online, Sabtu (27/8/2022).

Menurutnya, kebiasaan mandi air dingin setiap hari dapat menurunkan tingkat stres seseorang serta membantu kulit tetap awet muda. Sebab, air dingin mampu mengaktifkan sistem syaraf dan tubuh untuk melepaskan hormon dan bahan kimia untuk melawan stres.

“Berbagai masalah kulit itu dipicu oleh tingkat stres yang tinggi. Sementara stres psikologis memiliki dampak langsung pada penuaan kulit dan berdampak negatif pada banyak sistem dalam tubuh,” tuturnya.

Untuk itu, ia sangat menyarankan orang-orang yang mempunyai kulit wajah yang bermasalah untuk lebih rutin mandi dengan air dingin di pagi hari. Karena mandi pagi dapat menyeimbangkan dan mengontrol minyak alami di kulit serta mengurangi sel-sel kulit mati yang bisa menumpuk dan menyebabkan jerawat.

“Kenapa air dingin? Karena kalau air panas bersifat melucuti minyak alami yang menyebabkan kulit kering,” terang Dokter Civi.

Manfaat air dingin juga dijelaskan dalam beberapa penilitian, antara lain, riset dalam jurnal Medical Hypotheses membuktikan bahwa mandi air dingin dapat meningkatkan neurotransmiter, seperti norepinefrin dan endorfin yang mendorong rasa bahagia.

Dalam British Journal of Sports Medicine disebutkan, mandi air dingin memiliki banyak efek fisiologis pada tubuh seperti meningkatkan denyut jantung, meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan laju pernapasan. Semua efek tersebut akan membantu meningkatkan kewaspadaan sekaligus menghilangkan kantuk.

Tak hanya itu, dalam laman Medical Daily menuliskan bahwa air dingin bisa membuat rambut menjadi sehat dan bercahaya karena menutup kutikula. Hal ini membuat rambut lebih kuat dan mencegah timbulnya kotoran menumpuk di kulit kepala. Selain itu, mandi air dingin pagi hari dapat mencegah kerontokan dan memperlambat munculnya uban. (HQ1)

Buya Yahya Bagikan Resep Jitu Tangkal Efek Negatif Media Sosial

HAQQNEWS.CO.ID – Era media sosial membuat informasi apapun akan berkembang begitu cepat. Termasuk informasi negatif atau berita buruk yang berpotensi menyesatkan siapa saja yang menerimanya. Pengasuh Lembaga Pendidikan dan Dakwah (LPD) Al Bahjah, Buya Yahya mempunyai tiga resep jitu untuk menangkal pengaruh negatif tersebut.

”Tentang berita negatif, jangan banyak dekat-dekat dengan orang yang menyebarkan seperti itu. Betul-betul seleksi dan kunci, jangan mudah mendengar berita tersebut. Kalau berita buruk, jangan langsung percaya,” tutur Buya Yahya saat memberikan tausyiah saat Tabligh Akbar di Masjid Agung Batam Centre, Selasa (19/07/2022) malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon dan Ponpes Al Bahjah Batam serta di sejumlah wilayah ini, pada malam itu membuka kembali Majelis Al Bahjah Batam pasca pandemi Covid-19. Majelis ini sempat vakum hampir dua tahun karena  menyebarnya corona di Indonesia.

Kepada para jamaah, yang malam itu memenuhi Masjid Agung Batam, Buya Yahya membagikan sedikitnya tiga resep jitu guna menangkal pengaruh negatif era media sosial. Pertama, menurut Buya Yahya, jika ada berita yang tidak baik, maka hendaknya jangan langsung mempercayainya.

Selanjutnya, resep yang kedua, Buya menyarankan kepada para jamaah agar mulai dari sekarang untuk lebih banyak merenungi kekurangan diri. Sebab seseorang yang sudah sibuk dengan kekurangannya sendiri, maka tidak akan sibuk lagi dengan kekurangan orang lain. ”Maka akan omong kosong seseorang yang bertaubat, kalau tidak mengetahui kekurangannya dulu,” imbuh Buya.

Pun Buya Yahya mengakui, mengoreksi diri tidaklah mudah karena biasanya akan tertutupi dengan ego diri. Untuk itu, seseorang hendaknya mudah untuk diingatkan dan mudah pula untuk mengingatkan. Dia juga meminta agar seseorang bisa berkomitmen dengan pasangannya untuk saling mengingatkan. Untuk itu, dalam hal ingat-mengingatkan, sebagaimana Imam Al Gazali ajarkan, yaitu haruslah melihat manfaatnya, bukan melihat siapa orang yang mengingatkan.

Resep ketiga, Buya mengimbau kepada para jamaah untuk membiasakan diri mengambil hikmah dari caci maki orang lain. ”Untuk itu, dengarlah kata orang yang tidak senang dengan kita, sebab orang yang memusuhi kita itu, kalau sudah ngomong biasanya itu sudah benar. Karena pasti sudah lama mengumpulkan bahan-bahan kritikan tersebut, bahkan mungkin sudah bertahun-tahun. Namun ketahuilah, kalau para jamaah sudah mengetahui kekurangan masing-masing, maka Allah SWT itu maha pengampun,” imbuh Buya. (HQ1)

Bagaimana Nasib Jembatan Batam – Bintan?

HAQQNEWS.CO.ID – Bagaimana nasib rencana pembangunan jembatan yang akan menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri)? Nah, perkembangan rencana pembangunan jembatan terpanjang ini masih berjalan dan berlanjut.

Pembangunan jembatan Batam-Bintan sebelumnya direncanakan mulai konstruksi pada tahun 2022. Target ini untuk mengejar supaya selesai sebelum pergantian presiden pada 2024 mendatang.

Jembatan Batam-Bintan akan menjadi jembatan terpanjang yang membelah laut karena memiliki panjang 12 Km. Bakal mengalahkan jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura sepanjang 5,43 Km.

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Herry Trisaputra, mengatakan pembangunan jembatan masih berlanjut dan masih dalam finalisasi pra-kualifikasi.

“Jembatan Batam-Bintan, kami akan sampaikan sampai saat ini finalisasi untuk prakualifikasi dilakukan Q2 tahun 2022,” kata Harry, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI, Rabu (16/2/2022), sebagaimana CNBC mengutipnya.

Rencananya jembatan ini akan dibangun bersama investor Singapura, karena dibangun dengan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Pembangunan akan terdiri dari dua jembatan, yakni Batam-Tanjung Sauh dan Tanjung Sauh-Bintan. Dijelaskan sebelumnya porsi pembiayaan pemerintah akan mengerjakan penghubung Batam sampai Tanjung Sauh ini. Sedangkan untuk Tanjung Sauh sampai Bintan dibangun oleh investor melalui proses lelang.

Pembangunan jembatan Batam-Bintang dinilai akan dapat mempercepat pemerataan pembangunan antar dua pulau.

Pemprov Kepulauan Riau juga sudah menyiapkan anggaran Rp 50 miliar untuk pembebasan lahan sekitar proyek. Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Pemprov Kepri Yodi Yantari mengatakan terdapat 24 Hektare lahan masyarakat yang akan dibebaskan.

Untuk diketahui rencana ini juga masih dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMD tahun 2021-2026. Dari pemerintah pusat juga memastikan bahwa proyek ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional. (HQ1)

Cerita Rudi Soal Ekonomi Batam Tertinggi di Kepri

HAQQNEWS.CO.ID – Kepala Badan Pengusahaan Batam, H. Muhammad Rudi menceritakan bahwa ekonomi Kota Batam berhasil tumbuh mengalahkan daerah-daerah lainnya di Provinsi Kepulauan Riau. Ekonomi Batam tumbuh di atas empat (4) persen pada tahun 2021.

Informasi ekonomi Batam tumbuh di atas 4 persen itu, ia peroleh langsung dari Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam. Info menggembirakan tersebut pun, ia ungkapkan di depan para awak media.

‘’Saya dapat info dan disampaikan langsung oleh Kepala BPS Batam bahwa ekonomi Batam sekarang telah tumbuh di atas 4 persen. Dari sebelumnya terjadi kontraksi (minus) 3 persen,’’ ungkap Rudi pada Senin (14/2/2022) di depan para wartawan yang menghadiri syukuran 22 tahun Posmetro Batam Group.

Untuk itu Rudi mengajak masyarakat termasuk media untuk tetap bersabar karena tidak lama lagi perekonomian Batam akan kembali melaju.  Perkembangan terbaru tersebut seiring dengan mulai menurunnya pandemi Covid-19 di berbagai belahan dunia termasuk Kota Batam sendiri.

Menurut Wali Kota Batam ini, covid tinggal sisa-sisanya saja. ‘’Ini tinggal cicit-cicitnya, tapi tetap tidak boleh sombong. Protokol kesehatan tetap harus kita jalankan bersama,’’ imbuh Rudi.

Bagi Rudi keberhasilan Batam untuk cepat tumbuh kembali mempunyai cerita tersendiri. Menurutnya, hal itu karena didorong oleh industri yang tetap beroperasi 100 persen di Kota Batam. Selama pandemi yang dimulai tahun 2020, industri di Batam tidak ada yang tutup.

Gubernur yang lama, lanjut Rudi, sempat memintanya untuk menutup industri di Batam karena dikhawatirkan jadi tempat penularan corona. Sebab waktu itu tahun 2020, angka pandemi sedang menanjak naik di Kota Batam dan Kepri secara keseluruhan.

‘’Namun saya waktu itu sebagai Kapala BP Batam tetap ngotot untuk tetap memerintahkan industri di Batam agar beroperasi 100 persen. Dan untunglah waktu itu saya ngotot-ngototan, kalau tidak habislah Batam,’’ kisah Rudi sembari tersenyum dan berkelakar enaknya wali kota merangkap Kepala BP, bisa ikut mengatur industri.

Dalam catatan Keprisatu.com, pertumbuhan ekonomi yang dicapai Provinsi Kepri sebesar 3,34 persen tahun 2021 disumbang oleh industri pengolahan sebasar 2,63 persen. Industri pengolahan memberikan sumbangan di atas 40 persen terhadap PDRB Kepri dan industri pengolahan itu terpusat di Pulau Batam. Hanya sebagian kecil di Pulau Bintan. (HQ1)

Dinasti Politik Sangat Memungkinkan Timbul Benturan

HAQQNEWS.CO.ID – Politik kekerabatan atau politik dinasti mendapat sorotan secara nasional. Di antaranya datang dari Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini.

Dia mengatakan, secara legal formal memang tidak ada yang salah dengan terpilihnya suami istri atau ayah anak menjadi kepala daerah. Namun secara etika dan pendidikan politik, hal tersebut kurang mendidik dan justru melanggengkan politik kekerabatan atau politik dinasti.

“Bila kecenderungan itu terus berlanjut di masa mendatang, maka akan makin melanggengkan politik kekerabatan,” ujar Titi, Selasa (22/12), sebagaimana laman Republika mengutipnya.

Meskipun mereka terpilih melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat, tetapi peran partai politik (parpol) yang dominan memberikan akses pencalonan kepada mereka. Suami istri atau ayah anak yang memimpin posisi publik mengesankan terbatasnya kader partai mengisi rekrutmen politik melalui pilkada.

Apalagi, menurut Titi, relasi antara suami istri atau hubungan kekerabatan lainnya sangat mungkin menimbulkan terjadinya benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas roda pemerintahan daerah.

Menurut Titi, seharusnya parpol membuka ruang pencalonan yang lebih inklusif dengan memberi kesempatan lebih luas kepada banyak orang untuk maju pilkada.

Titi menyebutkan, fenomena yang terjadi sekarang ini menunjukkan penguasaan rekrutmen politik hanya segelintir orang saja. Akses dan inklusif pencalonan makin menyempit karena mengutamakan faktor kekerabatan di antara elite politik.

Padahal, kata Titi, sebenarnya parpol mempunyai banyak kader yang bisa maju dan mengisi posisi-posisi penting publik. Politikus parpol seharusnya berupaya maksimal menghindari potensi terjadinya benturan kepentingan dalam kepemimpinan politik dan pelayanan publik dengan membuka seluas-luasnya kesempatan masyarakat menjadi kandidat kepala daerah sesuai kompetensinya.

Titi mengatakan, praktik politik kekerabatan kental dengan nuansa mempertahankan kekuasaan. Dampaknya adalah penyalahgunaan kewenangan atau kekuasaan untuk kepentingan pribadi seperti tindakan korupsi.

“Seseorang itu maju di pilkada tentu untuk merebut kekuasaan. Saat sedang berkuasa tentu kekuasaan yang ada ingin terus bertahan,” kata Titi. (HQ1)

Gus Baha: Para Wali Zaman Dulu Berdoa untuk Pemimpin Besar

HAQQNEWS.CO.ID – Gus Baha memberi tausyiah bagaimana para Wali Allah zaman dulu punya cara pandang yang menarik terhadap sebuah doa. Di mana wali-wali ini berpikir positif dan mengutamakan segala sesuatu bagi kemaslahatan orang banyak, pun begitu terhadap doa.

Itulah sebabnya, para Wali Allah mengutamakan doa untuk para pemimpin atau penguasa terlebih dulu, agar pemimpin jadi saleh. Hal Ini sebagaimana terdapat dalam kitab Al Bidayah Wa Nihayah karya Ibnu Katsir tepatnya pada juz 5 halaman 238.

“Para wali-wali dulu, kalau berpikir sangat-sangat positif. Sangat-sangat berpikir untuk orang banyak,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran-Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al Quran (LP3iA) Narukan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim dalam acara dzikir nasional virtual yang diselenggarakan DPP PPP pada Kamis (17/12/2020) malam.

”Kalau saja saya tahu punya doa yang mustajab, doa yang pasti Allah kabulkan. Maka, pasti doa itu saya peruntukan bagi seorang pemimpin besar. Seorang presiden, raja, bukan untuk saya,” imbuh Gus Baha sebagaimana laman Republika.co.id mengutipnya.

Gus Baha Sebut Para Wali Inginkan Pemimpin Saleh

Lalu, mengapa para wali memperuntukkan doa bagi para pemimpin terlebih dulu? Menurut Gus Baha, ketika pemimpin itu menjadi pemimpin yang baik, maka kebaikannya akan terasa ke seluruh bangsanya atau berdampak besar bagi rakyatnya. Karena itu Gus Baha menjelaskan di antara ajaran almarhum KH Maimun Zubair adalah tidak boleh egois dalam beramal.

“Karena ketika pemimpin besar ini, mungkin dalam konteks modern bisa presiden, bisa raja. Sekali beliau ini baik, maka kebaikannya akan terasa bagi seluruh bangsa,” terang Gus Baha.

Dia melanjutkan, “Apa artinya kita saleh sendiri kemudian bangun masjid (saja) susah. Apa artinya saleh, kemudian tidak menciptakan komunitas sosial?”

Gus Baha menjelaskan, bahwa ketika bangsa ini diimpit pandemi kemudian mereka pulang kampung, kemudian mereka baik-baik saja, karena ada sistem sosial yang ditanamkan para kiai. Hal itu karena orang orang baik untuk menolong yang lemah memberi makan yang kelaparan, menghibur yang sedang galau, sehingga selain negara berbuat baik sistem sosial kita juga berbuat baik.

Sebab itu pula dalam mengawal sebuah bangsa, Gus Baha menambahkan, memerlukan jiwa besar dan kearifan antara negara dan masyarakat untuk terus bersama-sama. (HQ1)