back to top
28.9 C
Riau Islands
Kamis 30 April 2026
Beranda blog

Kepri Tertinggal di Sumatera: Lokasi Strategis, Daya Saing Tumpul

Provinsi Kepulauan Riau yang bersinggungan langsung dengan jalur tersibuk Selat Melaka, belum bisa memaksimalkan posisi strategisnya sehingga daya saingnya masih tertinggal jauh.

Haqqnews.co.id – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) gagal menembus jajaran elite daya saing di wilayah Sumatra. Meski memiliki posisi geografis yang sangat strategis, performa produktivitas daerah ini masih mengecewakan.

Data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2024 milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menempatkan Kepri pada peringkat ketujuh dari sepuluh provinsi di Sumatra. Skor IDSD Kepri hanya menyentuh angka 3,40. Angka ini masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 3,43.

Kepri kalah bersaing dengan mayoritas provinsi tetangga. Sumatra Utara memimpin di puncak dengan skor 3,71, disusul Sumatra Barat pada angka 3,70. Bahkan, skor Kepri berada di bawah Aceh (3,49), Bengkulu (3,48), Lampung (3,46), dan Sumatra Selatan (3,46).

BRIN mengidentifikasi kelemahan fatal pada pilar pasar produk Kepri yang hanya meraih skor 1,04. Angka ini merupakan yang terendah di seluruh Pulau Sumatra. Sektor keuangan daerah (2,14) dan kemampuan inovasi (2,80) juga terpaku di bawah standar nasional.

Koordinator Daerah Kepri BRIN, Yogi Octavian MP, menyoroti ketimpangan tersebut secara serius. “Pilar yang rentang skornya cukup lebar di bawah skor nasional adalah pilar tujuh pasar produk,” ujar Yogi. Ia mendesak pemerintah daerah segera menguatkan sektor UMKM melalui teknologi informasi untuk memperbaiki keadaan.

Di tingkat kabupaten dan kota, Kota Tanjungpinang mencatat skor tertinggi sebesar 4,04. Kota Batam membuntuti dengan skor 3,97. Namun, performa kabupaten lain masih sangat jomplang, seperti Kabupaten Kepulauan Anambas yang terpuruk di angka 2,97.

Data ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Provinsi Kepri. Keunggulan lokasi sebagai gerbang perdagangan internasional belum mampu terkonversi menjadi daya saing yang tangguh. Daerah ini harus segera merombak kebijakan pasar produk dan mempermudah akses permodalan bagi pelaku usaha lokal. (*/hq1)

Misni: Srikandi Pertama di Puncak Birokrasi Kepulauan Riau

Grafis

Haqqnews.co.id Misni, S.K.M., M.Si. resmi mengukir sejarah baru di Kepulauan Riau (Kepri). Ia menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) definitif sejak provinsi ini berdiri Gubernur Kepri Ansar Ahmad melantik Misni di Gedung Daerah, Kota Tanjungpinang, Senin (27/4/2026).

Pengangkatan ini berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 48/TPA Tahun 2026. Presiden Prabowo Subianto menandatangani keputusan tersebut pada 22 April 2026. Misni kini memegang posisi birokrasi tertinggi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah tersebut.

Gubernur Ansar Ahmad menaruh harapan besar pada pundak Sekda baru ini. Ia meminta Misni segera menyinergikan seluruh program kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD). “Sekretaris Daerah harus menjadi panutan birokrasi yang bersih, efektif, dan melayani,” tegas Ansar dalam sambutannya.

Perjalanan karir perempuan kelahiran Silau Jawa, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara ini tergolong solid. Ia meniti tangga birokrasi dari jenjang staf hingga posisi eselon tertinggi di daerah. Sebelum terpilih, Misni menjabat sebagai Asisten III Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kepri.

Rekam jejaknya mencakup berbagai posisi strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepri. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Barenlitbang) pada 2023–2025. Misni juga sempat memimpin Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak selama enam tahun.

Kapasitas manajerialnya didukung oleh latar belakang akademik yang kuat. Misni meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat dari Universitas Sumatera Utara pada 1997. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Sosial di Universitas Padjadjaran tahun 2004.

Gubernur Ansar mengakui kompetensi Misni dalam menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat. Hal ini menjadi nilai tambah krusial untuk mendukung visi pembangunan daerah. “Beliau mampu membangun jaringan yang bagus dengan pemerintah pusat,” ujar Ansar.

Kini, Misni langsung berhadapan dengan tugas administrasi yang mendesak. Ia fokus memfinalisasi penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) untuk tahun anggaran 2027. Dokumen ini merupakan basis penting bagi penyusunan anggaran pembangunan di Kepri ke depan.

Misni berkomitmen menyinkronkan seluruh kebijakan OPD dengan visi kepala daerah. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar-unit kerja untuk meningkatkan layanan publik. Fokus utamanya adalah memastikan setiap anggaran memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (*/hq1)

Ironi Ibu Kota Kepri: Ekonominya Nomor Buncit

Gerbang Tanjungpinang di kota lama Ibu Kota Kepri itu.

Haqqnews.co.id Ekonomi Kota Tanjungpinang yang notabene Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, mencatat rapor merah pada 2025. Pertumbuhannya hanya menyentuh 3,31 persen. Menempatkannya di posisi terbawah dibandingkan kabupaten dan kota lain di Provinsi Kepri.

Laju ekonomi ibu kota Kepri ini tertinggal jauh dari pertumbuhan provinsi yang mencapai 6,94 persen. Angka tersebut bahkan berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Sebaliknya, Kabupaten Kepulauan Anambas memimpin wilayah Kepri dengan lonjakan fantastis 15,54 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren pelemahan di Tanjungpinang sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan merosot dari 2,9 persen pada triwulan I menjadi 2,55 persen pada triwulan III. Meski sempat naik ke 4,97 persen pada triwulan IV, akumulasi tahunan tetap menempatkan kota ini di peringkat buncit.

Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, mengakui struktur ekonomi kota sangat bergantung pada sektor perdagangan dan jasa. “Kita perlu terobosan dan inovasi yang sesuai dengan potensi Tanjungpinang,” tegas Lis, 10 Maret 2026 lalu saat memimpin rapat percepatan ekonomi. Ia mendorong penguatan sektor UMKM untuk mendongkrak daya beli masyarakat.

Staf Ahli Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, menyoroti kesenjangan ekonomi yang mencolok antarwilayah di Kepri. Ia menyarankan pemerintah daerah memperkuat konektivitas antarpulau guna memacu distribusi logistik yang lebih merata. Bappenas juga mendorong digitalisasi layanan publik sebagai daya ungkit pertumbuhan daerah.

Tanjungpinang sebenarnya memiliki modal ekonomi lokal yang unik. BPS mencatat keberadaan lebih dari 600 kedai kopi menjadi kekuatan utama pergerakan ekonomi rakyat. Selain itu, pemerintah kota membidik optimalisasi pariwisata terintegrasi di Pulau Penyengat untuk menambah pendapatan daerah. (*/hq2)

TPP ASN Ibu Kota Kepri Berada di Ujung Tanduk

Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat

Haqqnews.co.id – Tambahan penghasilan pegawai atau TPP ASN Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau berada di ujung tanduk. Pemerintah kota harus mengejar batas belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD pada 2027, sementara kapasitas fiskalnya masih seret.

Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, mengakui kondisi itu. Dalam keterangan resminya, dikutip 21 April 2026, ia berkata, “Saya harus menegaskan bahwa kebijakan 30 persen belanja pegawai bukan kebijakan yang baru. Ia menambahkan, masih banyak daerah yang belanja pegawainya di atas batas itu, termasuk Kota Tanjungpinang, karena kondisi anggaran yang masih belum mampu untuk mencapai target tersebut.

Angka APBD 2026 menjelaskan tekanan itu. Pendapatan daerah Tanjungpinang ditetapkan Rp900,56 miliar. Dari jumlah itu, PAD hanya Rp293,97 miliar. Sementara belanja daerah mencapai Rp1,03 triliun.

Masalah terbesar ada di belanja pegawai. Dalam Perda APBD 2026, belanja pegawai Tanjungpinang tercatat Rp505,46 miliar. Nilai itu setara hampir 49 persen dari total belanja daerah. Angka ini jauh melampaui batas 30 persen yang diatur Pasal 146 UU Nomor 1 Tahun 2022.

Kondisi itu menunjukkan PAD Tanjungpinang belum kuat menopang beban aparatur. Nilai PAD bahkan hanya sekitar sepertiga dari total pendapatan daerah. Belanja pegawai juga sekitar 1,7 kali lebih besar daripada PAD. Ketika ruang uang sempit, pos seperti TPP menjadi yang paling mudah ditekan.

Dokumen resmi Pemko juga menegaskan TPP bergantung pada kemampuan keuangan daerah. Dalam rancangan Peraturan Wali Kota tentang TPP ASN yang difasilitasi pemerintah provinsi, disebutkan TPP dianggarkan tiap tahun di APBD berdasarkan besarnya pagu TPP sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Dokumen itu juga menyebut, Pemberian TPP ASN diberikan sesuai dengan ketersediaan anggaran dan kemampuan keuangan daerah.

Tekanan fiskal Tanjungpinang tidak berhenti di situ. APBD 2026 mencatat defisit Rp131,96 miliar. Pemko menutupnya lewat penerimaan pembiayaan Rp169,46 miliar, termasuk rencana utang daerah Rp150 miliar. Pada saat yang sama, pemko juga menganggarkan Rp37,5 miliar untuk pengeluaran pembiayaan utang daerah.

Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, sebelumnya juga menegaskan APBD 2026 disusun dengan melihat kemampuan keuangan daerah, efektivitas, dan efisiensi belanja. Pernyataan itu memperkuat satu fakta: Tanjungpinang tidak hanya berhadapan dengan aturan pusat, tetapi juga dengan kas daerah yang terbatas.

Secara regulasi, daerah yang masih melampaui batas 30 persen wajib menyesuaikan porsi belanja pegawai paling lambat pada tahun anggaran 2027. PMK Nomor 24 Tahun 2024 juga membuka jalan bagi penundaan atau pemotongan transfer ke daerah yang tidak memenuhi belanja wajib sesuai ketentuan.

Sampai saat ini, Pemko Tanjungpinang belum mengumumkan keputusan resmi menghapus TPP. Namun, dengan PAD yang masih kecil, belanja pegawai yang gemuk, dan tenggat aturan yang makin dekat, nasib TPP ASN Pemko Tanjungpinang jelas berada di bawah tekanan berat. (*/hq1)

Kepri Tetap Gaskeun Proyek Monumen Bahasa Rp110 Miliar

Gambar ilustrasi.

Haqqnews.co.id Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) tetap melanjutkan alias ‘gaskeun’ proyek Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat walau fiskal daerah tertekan. Nilai proyek itu kini disebut sekitar Rp110 miliar, sementara Pemprov Kepri juga sudah menandatangani pinjaman daerah Rp400 miliar dengan Bank BJB untuk membiayai 41 kegiatan strategis, termasuk Monumen Bahasa Pulau Penyengat.

Arah itu ditegaskan kembali oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang RKPD Kepri 2027 di Tanjungpinang, Senin, 6 April 2026 lalu. Dalam forum itu, Ansar menegaskan revitalisasi Pulau Penyengat tetap berjalan, termasuk pembangunan museum dan monumen bahasa nasional sebagai penanda bahasa Indonesia lahir dari Pulau Penyengat.

Dorongan itu muncul saat Pemprov Kepri sendiri mengakui ruang fiskal daerah sedang sempit. Sebelumnya dalam penyampaian nota keuangan APBD 2026, Ansar menegaskan, dengan ruang fiskal yang terbatas, kebijakan belanja daerah disusun lebih selektif dan mengutamakan program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Setiap rupiah harus dibelanjakan secara efektif dan efisien. Pemprov juga menyebut penurunan transfer dari pemerintah pusat sebagai salah satu tantangan utama.

Namun di tengah kondisi itu, Pemprov justru menempuh pembiayaan lewat utang daerah. Ansar menyebut pinjaman ke bank menjadi jalan yang dipilih karena kemampuan fiskal daerah terbatas. “Kalau tak ada pinjaman, tak ada kegiatan pembangunan tahun ini, karena kondisi fiskal kita memang terbatas,” kata Ansar. Ia juga menjelaskan Pemprov beralih ke Bank Jabar Banten (BJB) untuk merealisasikan pinjaman tersebut.

Pinjaman itu kemudian diteken pada 6 Maret 2026. Nilainya Rp400 miliar. Ansar menyebut pinjaman itu dipakai untuk memperkuat pembiayaan pembangunan daerah di tengah keterbatasan fiskal. Dari total 41 kegiatan strategis yang dibiayai, dua proyek besar yang dia sebut secara khusus ialah Monumen Bahasa Pulau Penyengat dan klinik di RSUD Raja Ahmad Tabib di Tanjungpinang. Ansar juga mengatakan, “Proyek-proyek tersebut akan segera dilelang, lalu masuk manajemen konstruksi dan pelaksanaan fisik.”

Nilai proyek Monumen Bahasa sendiri terus membesar. Pada tahap awal, Pemprov Kepri mengusulkan total biaya sekitar Rp90 miliar, dengan skema sekitar Rp25 miliar dari APBD Kepri dan Rp65 miliar dari APBN. Namun dalam perkembangan terbaru, Ansar menyebut kebutuhan anggaran monumen itu naik menjadi sekitar Rp110 miliar. Ia menjelaskan monumen itu akan dibangun di Bukit Kursi Penyengat, setinggi 60 meter, dan dilengkapi lift serta museum.

Data APBD 2026 menunjukkan ruang gerak anggaran memang tidak longgar. Dalam nota keuangan APBD 2026, Pemprov Kepri mencatat pendapatan daerah Rp3,31 triliun, belanja daerah Rp3,54 triliun, dan pendapatan transfer Rp1,46 triliun. Pada tahap sebelumnya, Pemprov juga menyebut rancangan APBD 2026 harus disesuaikan setelah pengurangan transfer pusat sekitar Rp495 miliar.

Karena itu, proyek Monumen Bahasa kini menjadi sorotan bukan hanya karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena tetap dipacu saat pemerintah daerah sedang memperketat belanja dan mencari ruang pembiayaan lewat pinjaman. Di satu sisi, Pemprov menempatkan proyek ini sebagai penanda sejarah lahirnya bahasa Indonesia dari Pulau Penyengat. Di sisi lain, keputusan melanjutkan proyek senilai lebih dari Rp100 miliar di tengah fiskal yang ketat membuat prioritas belanja daerah ikut menjadi perhatian publik.

Untuk menjaga keseimbangan, Ombudsman RI Perwakilan Kepri ikut mengingatkan agar penggunaan pinjaman daerah benar-benar memuat prioritas yang jelas dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Kepala Perwakilan Ombudsman Kepri Lagat Siadari menegaskan alokasi dana pinjaman wajib mendahulukan pembiayaan pelayanan publik dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan urusan sosial. (*/hq1)

Mencuat Persoalan Beban Pajak Ganda di Pulau Batam

Info Grafis

Warga Batam Desak Penghapusan UWT Perumahan 

Haqqnews.co.id –Mencuat persoalan beban pajak ganda di Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Warga pulau industri itu, kini mendesak penghapusan Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) atau UWT untuk kawasan perumahan. Sebab pemungutan UWT telah menimbulkan beban pajak ganda bagi masyarakat.

Perkumpulan Kawan Lama (Kalam) Kota Batam menilai warga menanggung beban ganda karena tetap membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) setiap tahun di tengah kewajiban membayar UWT.

Desakan penghapusan UWT berawal saat buka puasa bersama Kalam Batam di Restoran D’Patros Harbour Bay, Jodoh, Batam, Sabtu, 14 Maret 2026 lalu. Dalam forum itu, anggota DPRD Kepulauan Riau Taba Iskandar menyebut pungutan UWT di kawasan permukiman membebani warga. “Karena terjadi double pungutan terhadap objek yang sama,” kata Taba.

Anggota DPD RI Ismeth Abdullah menyampaikan keluhan serupa. Ia mengaku menerima pertanyaan dari warga saat reses, termasuk pensiunan yang merasa tidak lagi sanggup membayar UWT, padahal tetap membayar PBB setiap tahun. “Sampai kapan harus bayar UWTO?” ujar Ismeth, menirukan pertanyaan warga.

Tuntutan itu lalu bergerak ke tahap yang lebih terorganisasi. Dalam dialog di Geudong Kopi, Tiban Indah, pada 29 Maret 2026, tim diskusi yang dibentuk KALAM Batam sepakat membentuk delegasi khusus untuk menyampaikan tuntutan penghapusan UWT kepada pemerintah pusat. Dialog itu juga menunjuk Taba sebagai Ketua Koordinasi Penghapusan UWT KALAM Batam.

Taba kemudian menegaskan bahwa gerakan itu lahir dari aspirasi warga, bukan agenda politik. Pada 7 April 2026, ia menyatakan dorongan penghapusan UWT muncul dari keluhan masyarakat di lapangan. “Perjuangan penghapusan UWT murni aspirasi warga,” imbuh Taba.

Di sisi lain, BP Batam tetap pada kebijakan UWT untuk perumahan. Kepala BP Batam Amsakar Achmad sebelumnya menyatakan rencana pembebasan UWT untuk lahan 200 meter persegi masih dikaji ulang karena UWT menjadi salah satu sumber utama Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Layanan resmi BP Batam menunjukkan mekanisme UWT tetap berjalan. Dalam portal Land Management System, BP Batam masih membuka layanan perpanjangan hak atas tanah dan mensyaratkan PBB terakhir sebagai dokumen lampiran. Portal itu juga menegaskan pemohon harus membayar faktur UWT yang terbit dalam proses perpanjangan.

Perdebatan kini mengerucut pada satu pokok tuntutan: warga meminta BP Batam membedakan perlakuan antara lahan komersial dan rumah tinggal. KALAM mendorong penghapusan UWT untuk permukiman, sementara BP Batam masih mempertahankan skema UWT sambil mengkaji kemungkinan perubahan kebijakan. (*/hq1)

Ibu Kota Kepri Hilang Daya Tarik di saat Gencar Agenda Ekonomi

Grafis

Haqqnews.co.id – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) gencar meluncurkan agenda percepatan ekonomi. Namun di saat bersamaan, Tanjungpinang justru menghadapi sinyal sebaliknya. Beberapa tahun belakangan, Ibu Kota Kepri itu mulai kehilangan daya tarik.

Data resmi menunjukkan fondasi ekonomi Tanjungpinang kini tertinggal. BPS mencatat ekonomi Tanjungpinang tumbuh 3,78 persen pada 2024, melambat dari 4,92 persen pada 2023. Pada tahun yang sama, ekonomi Kepri tumbuh 5,02 persen, dan Batam 6,69 persen. Kontribusi Tanjungpinang terhadap PDRB Kepri juga hanya 7,09 persen, sedangkan Batam mencapai 66,01 persen.

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah mengakui pelemahan itu. Dalam rapat koordinasi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah pada 10 Maret 2026, ia menyebut pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang masih tergolong rendah. Ia juga menegaskan kota itu bukan daerah penghasil dan masih bergantung pada perdagangan serta jasa. Pengakuan itu sejalan dengan data BPS yang mencatat 78,92 persen penduduk bekerja di Tanjungpinang masih berada di sektor jasa pada Agustus 2025.

Di atas kertas, pemerintah sudah bergerak. Pemko sendiri menggelar Temu Investasi 2025 untuk menarik investor, menjanjikan pendampingan perizinan, dan membuka peluang pengembangan lahan. Pada akhir 2025 sederet agenda pariwisata seperti Kepri Art & Culture International 2025 juga digelar di Tanjungpinang.Pemprov juga memanfaatkan kembalinya status internasional Bandara RHF untuk mengejar penerbangan reguler internasional dan promosi wisata.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad bahkan mengingatkan agar momentum itu tidak hilang. Saat status internasional Bandara RHF diumumkan, ia berkata, “Jangan sampai status ini kembali menjadi domestik.” Pernyataan itu menunjukkan pemerintah melihat konektivitas Tanjungpinang sebagai kunci penggerak ekonomi baru. Namun beberapa bulan setelah itu, justru muncul kabar penghentian layanan Garuda Indonesia untuk rute utama Tanjungpinang–Jakarta.

Sinyal kehilangan daya tarik, paling mudah dibaca dari keputusan bisnis di lapangan. Matahari Department Store di Tanjungpinang City Center resmi berhenti beroperasi pada 1 Mei 2025 setelah sekitar sembilan tahun hadir di kota itu. Penutupan itu menghapus salah satu tenant jangkar ritel modern di pusat kota.

Di sektor transportasi, Garuda Indonesia berhenti melayani rute Tanjungpinang–Jakarta di Bandara RHF pada 10 Februari 2026. Garuda Group memang menyiapkan Citilink sebagai pengganti, tetapi layanan full service tetap hilang dari rute utama ibu kota provinsi itu. Fakta ini menempatkan agenda penguatan konektivitas dalam posisi sulit, karena status internasional bandara belum otomatis berbanding lurus dengan penguatan layanan maskapai premium.

Tekanan serupa datang dari sektor industri. PT Panca Rasa Pratama, produsen Teh Prendjak yang telah lama beroperasi di Tanjungpinang, memutuskan memindahkan basis produksi ke Kendal, Jawa Tengah, dengan target operasi di lokasi baru pada kuartal IV 2026. Regional Manager PT Panca Rasa Pratama Mustardi menyebut keputusan itu diambil antara lain karena efisiensi logistik. Ia juga meminta pemerintah tidak membiarkan pelaku usaha berjuang tanpa pelindung atau pengayoman dari pemangku kewenangan.

Dari sektor jasa keuangan, tekanan itu belum berhenti. Bank OCBC memastikan Kantor Cabang Tanjungpinang-Merdeka di Jalan Merdeka akan ditutup mulai 11 Mei 2026 nanti. Bank menyebut penutupan itu sebagai bagian dari efisiensi jaringan layanan, lalu mengalihkan layanan ke Batam dan kanal digital. Bagi Tanjungpinang, keputusan ini menambah daftar layanan formal yang makin tersentral ke kota lain.

Rangkaian fakta itu memperlihatkan jurang antara agenda dan hasil. Pemerintah meluncurkan forum investasi, rapat percepatan, program UMKM, dan strategi bandara serta berbagai agenda pariwisata. Namun publik mengukur hasilnya dari pertanyaan yang lebih sederhana: apakah kota ini berhasil menahan bisnis besar, menarik investasi baru, memperkuat konektivitas, dan menjaga layanan utama tetap bertahan ? Sampai April 2026, jawabannya belum terlihat kuat.

Meski begitu, gambaran Tanjungpinang tidak sepenuhnya gelap. BPS mencatat IPM kota ini naik menjadi 82,02 pada 2025 dari 81,58 pada 2024. Persentase penduduk miskin juga turun menjadi 5,96 persen pada 2025. Data ini menunjukkan perbaikan sosial tetap berjalan, tetapi belum cukup untuk menepis tanda-tanda melemahnya daya saing kota.

Tantangan bagi Pemprov Kepri dan Pemko Tanjungpinang sekarang bukan lagi sekadar meluncurkan agenda baru. Tantangannya adalah membuktikan bahwa agenda itu bisa mengubah keputusan bisnis di lapangan. Selama brand besar terus keluar, layanan utama menyusut, dan pertumbuhan tertinggal jauh dari Batam, status Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi akan semakin kuat secara simbolik, tetapi melemah secara ekonomi. Ini terlihat dari inferensi yang ditarik dari data pertumbuhan, struktur ekonomi, dan keluarnya sejumlah pelaku usaha utama. (*/hq1)

Satu per Satu Brand Besar Tinggalkan Ibu Kota Kepri

Gerbang Tanjungpinang di kota lama Ibu Kota Kepri itu.

Ritel, Industri, dan Perbankan Kompak Kurangi Operasi dalam Dua Tahun Terakhir

Haqqnews.co.id Satu per satu brand besar mulai meninggalkan Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Matahari Department Store sudah menutup gerai sejak 2025. Pabrik Teh Prendjak bersiap memindahkan pabriknya. Bank OCBC NISP juga disebut akan menutup cabangnya pada Mei 2026.

Rangkaian penutupan ini menunjukkan perubahan arah bisnis di ibu kota Kepri tersebut. Dalam waktu berdekatan, sektor ritel, industri, dan perbankan sama-sama mengurangi kehadiran fisik.

Matahari lebih dulu menghentikan operasional gerai di Tanjungpinang City Center pada 1 Mei 2025. Anggota DPRD Kepulauan Riau Rudy Chua menyebut kinerja penjualan tidak mencapai target. “Omset mereka di bawah target, juga sepi,” kata Rudy.

Ia menilai penutupan itu berdampak pada aktivitas pusat perbelanjaan. Tenant utama biasanya menarik pengunjung dan menopang gerai lain.

Di sektor industri, PT Panca Rasa Pratama, produsen Teh Prendjak, sempat menghentikan produksi akibat gangguan akses ke pabrik. Perusahaan itu kini disebut akan menutup operasional pada 2026 setelah aktivitas produksi tidak stabil. Prendjak disebut akan memindahkan pabriknya ke Pulau Jawa.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan usaha juga menjangkau sektor pengolahan. Gangguan operasional mendorong perusahaan meninjau ulang keberlanjutan bisnisnya.

Sementara itu, Bank OCBC NISP kini menjadi perhatian publik. Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau Rudy Chua mengatakan pihaknya menerima informasi rencana penutupan cabang di Tanjungpinang pada Mei 2026. “Kami mendapat pengaduan dari warga terkait rencana penutupan Bank OCBC NISP cabang Tanjungpinang,” ujarnya.

Kabar itu muncul seiring keluhan nasabah terkait layanan penarikan valuta asing. Sebagian nasabah mulai memindahkan dana untuk menjaga kelancaran transaksi.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu pola yang sama. Pelaku usaha memilih menutup gerai, menghentikan produksi, atau mengalihkan layanan ke kota lain.

Hingga kini, pemerintah daerah belum merilis data resmi dampak terhadap tenaga kerja dan investasi. Namun, perkembangan ini menjadi perhatian karena melibatkan sektor-sektor utama yang selama ini menopang aktivitas ekonomi Tanjungpinang. (*/hq1)

Avtur Naik Tajam, Pemerintah Tahan Lonjakan Tiket Pesawat 9 – 13 Persen

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Haqqnews.co.id  — Kenaikan harga avtur mulai 1 April 2026 langsung memberi tekanan pada maskapai nasional. Asosiasi maskapai menyebut lonjakan harga bahan bakar pesawat itu mengganggu struktur biaya pesawat. Pemerintah merespons dengan menahan kenaikan tiket 9 – 13 persen, agar tidak terjadi lonjakan ke konsumen.

Pertamina melalui laman harga aviasi menampilkan harga avtur April 2026 di berbagai bandara pada kisaran sekitar Rp23 ribu-Rp25 ribu per liter di banyak titik layanan. Di saat yang sama, INACA menyebut penyesuaian harga avtur domestik untuk April berlaku sejak 1 April 2026 dan rata-rata kenaikannya sekitar 70 persen, sedangkan sektor internasional sekitar 80 persen, tergantung bandara.

Tekanan itu cepat terasa karena bahan bakar merupakan komponen besar biaya operasi maskapai. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan harga avtur menyumbang sekitar 40 persen dari biaya operasional pesawat. Karena itu, pemerintah menilai penyesuaian kebijakan perlu dilakukan agar maskapai tetap berjalan, tetapi harga tiket masih terjaga.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah memilih jalan tengah. “Kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan kita yang terdampak kenaikan biaya operasional, dan juga memberikan perlindungan terhadap daya beli masyarakat,” kata Dudy pada 6 April 2026.

Pemerintah lalu menaikkan komponen fuel surcharge menjadi 38 persen. Sebelumnya, batas itu 10 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk pesawat baling-baling. Pemerintah menanggung PPN 11 persen untuk tiket ekonomi berjadwal dalam negeri, dengan anggaran sekitar Rp2,6 triliun untuk dua bulan, serta menghapus bea masuk suku cadang pesawat.

Di sisi industri, INACA menilai tekanan biaya belum selesai. Organisasi itu sebelumnya juga menyampaikan kepada Bank Indonesia bahwa krisis geopolitik Timur Tengah memicu kenaikan tajam harga avtur dan kurs dolar AS, sekaligus mengganggu operasi penerbangan internasional, kargo, dan rantai pasok suku cadang. Posisi ini menunjukkan bahwa kenaikan avtur bukan sekadar isu harga, melainkan risiko operasional yang lebih luas bagi maskapai.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja, seperti dikutip sejumlah laporan media pekan ini, mendesak pemerintah menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar dan tarif batas atas penerbangan domestik. Desakan itu muncul karena maskapai menilai ruang penyesuaian tarif yang ada belum sepenuhnya menutup lonjakan biaya yang datang mendadak.

Bagi maskapai, sensitivitas terhadap harga bahan bakar memang tinggi. Laporan keuangan Garuda Indonesia 2025 menunjukkan beban bahan bakar mencapai US$973,2 juta. Dalam laporan yang sama, pembelian bahan bakar dari PT Pertamina Patra Niaga tercatat sekitar US$872,8 juta, setara 27 persen dari total pendapatan usaha. Data itu memberi gambaran bahwa perubahan harga avtur cepat memukul arus kas dan margin maskapai.

Meski begitu, pemerintah menegaskan kenaikan tiket tidak akan dibiarkan liar. Dudy mengatakan pemerintah menjaga agar kenaikan harga tiket hanya di kisaran 9 persen sampai 13 persen. Ditjen Perhubungan Udara juga menyatakan akan tetap mengawasi agar tarif selama periode ramai penumpang tidak melampaui ketentuan.

Perkembangan terbaru ini memperlihatkan dua dampak utama. Pertama, maskapai menghadapi tekanan biaya yang nyata dan berpotensi memangkas margin, terutama pada rute tipis dan pasar berdaya beli rendah. Kedua, pemerintah memilih menahan efek langsung ke penumpang melalui pembatasan surcharge dan insentif fiskal, sehingga beban kenaikan avtur untuk sementara dibagi antara negara, maskapai, dan konsumen. (*/hq1)

24 Jam Tanpa Batas di HARRIS Barelang Batam Segera Berakhir, Ini Waktu Terbaik untuk Liburan

HARRIS Barelang, Batam.

Haqqnews.co.id – HARRIS Barelang Batam mengajak para wisatawan untuk memanfaatkan kesempatan terakhir menikmati program favorit 24 Hours Stay, yang akan resmi berakhir pada 30 April 2026. Program ini memberikan fleksibilitas bagi tamu untuk check-in kapan saja dan menikmati pengalaman menginap selama 24 jam penuh, menghadirkan kenyamanan maksimal untuk liburan yang lebih santai dan berkualitas.

Dikenal dengan berbagai aktivitas unggulan yang selalu tersedia, HARRIS Barelang Batam menawarkan pengalaman menginap yang lebih dari sekadar staycation. Tamu dapat menikmati beragam kegiatan seperti menjelajahi area resort dengan ATV, merasakan keseruan bermain jetski di perairan Barelang, hingga berkeliling santai menggunakan electric scooter. Suasana akhir pekan semakin hidup dengan Foam Party yang menjadi salah satu highlight favorit tamu, sementara beragam kegiatan tematik anak yang interaktif turut melengkapi pengalaman liburan keluarga yang hangat, menyenangkan, dan penuh kebersamaan.

HARRIS Barelang, Batam.
Kamar di HARRIS Barelang, Batam.

Dengan kombinasi fleksibilitas waktu melalui program 24 Hours Stay serta ragam aktivitas signature yang vibrant dan engaging, HARRIS Barelang Batam menghadirkan pengalaman menginap yang tidak hanya nyaman, tetapi juga penuh energi dan koneksi.

Seiring dengan mendekatnya akhir periode program, ini menjadi waktu yang tepat untuk merencanakan liburan singkat maupun quality time bersama orang terdekat. Jangan lewatkan kesempatan terakhir untuk menikmati pengalaman menginap 24 jam penuh sebelum program ini berakhir.

Reservasi dapat dilakukan melalui WhatsApp di +62 815 3409 1111 atau email ke reservation.hbrl@the-ascott.com
. Informasi terbaru tersedia melalui Instagram @HARRIS_barelang dan situs bit.ly/HARRISBARELANG (*/hq1).