back to top
27.2 C
Riau Islands
Rabu 4 Maret 2026
Beranda blog Halaman 5

Batam, Natuna, dan Anambas Penggerak Utama Ekonomi Kepri

Salah satu proyek migas di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Haqqnews.co.id  – Kabupaten Natuna dan Kabupaten Anambas menjadi penopang kedua dan ketiga setelah Kota Batam dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau. Ketiga wilayah merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk Kepri terutama dari sektor industri pengolahan, konstruksi, dan migas.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri telah mengumumkan ekonomi Kepri pada triwulan III tumbuh sebesar 7,48 persen dari periode yang sama tahun 2024. BPS bahkan menempatkan Kepri sebagai provinsi keempat dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia. Masing-masing lima besar provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia, yaitu pertama Maluku Utara, kedua Sulawesi Tengah, ketiga Papua Barat, keempat Kepri, dan Bali, kelima.

BPS memberikan laporan resmi, dikutip pada Selasa (11/11/2025), Pertumbuhan Regional Domestik Bruto (PDRB) sektor pertambangan (migas) mencapai 15 persen, dengan andil untuk Kepri sebesar 1,45 persen. Sektor hulu migas ini berasal dari dua wilayah, yaitu Natuna dan Anambas.

Namun yang memberi andil utama PDRB Kepri tetap berasal dari Batam yang mencapai 2,93 persen dari sektor industri pengolahan dan 1,1 persen dari sektor konstruksi.

Kepala SKK Migas Sumbagut, C. W. Wicaksono menyatakan multiplier effect yang lebih besar akan masyarakat Kepri rasakan dengan beroperasinya proyek-proyek baru di sektor hulu migas di Kepri.

”Natuna dan Anambas akan menjadi garda terdepan pertumbuhan ekonomi Kepri yang berbasis energi,” imbuh Wicaksono.

Efek berganda akan masyarakat Kepri rasakan di pulau-pulau terdepan seperti Natuna, Anambas, hingga ke pusat industri di Batam.

Dalam catatan dan perhitungan BPS Kepri, tanpa sumbangan sektor migas dari Natuna dan Anambas, Kepri pada triwulan III 2025 hanya bisa tumbuh 5,94 persen. (hq1)

Menkeu Purbaya Bilang Dolar Jual Saja!  

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

Haqqnews.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang begini,” Jadi bapak-bapak, ibu-ibu, jangan pegang dolar sekarang. Sekarang jual saja. Begitu ekonomi jalan. Ini menguat dengan signifikan”.

Imbauan itu karena Purbaya yakin nilai tukar rupiah akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring dengan prospek perekonomian nasional yang semakin baik.

“Kalau ekonomi kita tumbuh dengan bagus, asing pasti masuk ke sini. Investasi asing pasti masuk ke sini. Rupiah pasti akan menguat dengan signifikan,” ungkap Purbaya saat rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Jakarta, Senin (3/11/2025)

Namun Purbaya mengakui ekonomi kuartal III-2025 akan lebih lemah dibandingkan kuartal lalu yang mencapai 5,12 persen year on year (yoy). Pada kuartal IV-2025 diharapkan bisa menembus 5,5 persen.

Sederet kebijakan sudah dikeluarkan oleh Purbaya sejak menjabat Menteri Keuangan. Salah satunya penempatan dana sebesar Rp 200 triliun kepada perbankan untuk mendorong penyaluran kredit dan hidupnya industri di dalam negeri.

Di samping itu ada beberapa kebijakan lain untuk meningkatkan daya beli masyarakat seperti magang nasional dan bantuan sosial. Pemerintah juga memberikan insentif pajak dan diskon untuk transportasi kereta api, pesawat, dan kapal serta tol pada akhir tahun.

Purbaya juga gencar memonitor perkembangan belanja Kementerian Lembaga agar lebih cepat dan tepat sasaran. “Yang penting kita membalik momentum perekonomian,” terangnya.

Pada tahun depan, ekonomi diperkirakan bisa tumbuh lebih cepat. Target yang dipatok adalah 6 persen pada semester II-2026. (*/hq1)

Hadapi 2026, DPRD Minta Evaluasi Menyeluruh BUMD Kepri

Wahyu Wahyudin

Haqqnews.co.id – Menghadapi tahun 2026, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meminta agar ada evaluasi terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

”Lakukan evaluasi menyeluruh atas kinerja BUMD serta pengelolaan asetnya,” tegas Sekretaris Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin, S.E., M.M.

Wahyu melanjutkan, evaluasi diperlukan karena BUMD berperan dan harus berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). BUMD Kepri seperti lain PDAM Tirta Kepri, PT Pembangunan Kepri, dan PT Pelabuhan Kepri.

Wahyu menyinggung langsung kinerja BUMD, yang dinilainya belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam menyumbang PAD maupun devisa daerah. “BUMD jangan hanya jadi beban APBD. Harus kejar target, harus punya visi bisnis. Kalau mandek terus, lebih baik dievaluasi total,” tegasnya.

Evaluasi itu mendesak lantaran Kepri ke depan, tidak lagi bisa hanya mengandalkan dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). Terlebih dalam dua tahun terakhir, pemerintah pusat sudah memangkas dana transfer ke daerah (TKD).

”Waktu berbenah bahkan sudah sangat sempit bagi Kepri,” imbuh Wahyu, yang dikutip dari website resmi DPRD Kepri, Sabtu (1/11/2025).

APBD Kepri bakal terseok-seok akibat meningkatnya belanja pegawai, terutama dari rekrutmen besar-besaran PPPK, membuat ruang fiskal untuk pembangunan semakin sempit. Ia tak segan menyebut situasi ini sebagai “alarm darurat fiskal” bagi Pemprov.

Ia menilai, tanpa langkah luar biasa, target pendapatan sebesar Rp3,6 triliun dalam APBD 2026 hanya akan menjadi angka kosong di atas kertas. “Beban belanja pegawai sudah melewati ambang batas. Kalau tidak segera kita dorong sektor-sektor penghasil PAD, kita bisa kolaps secara anggaran,” papar Wahyu.

Untuk itu, Wahyu mengingatkan, selain BUMD, seluruh OPD penghasil agar menyusun peta jalan penguatan PAD.

Menurutnya, kelesuan kinerja OPD penghasil PAD menjadi biang kerok stagnannya pendapatan daerah. Ia menyoroti minimnya inisiatif dari sejumlah dinas teknis yang seharusnya bisa menjadi lokomotif penerimaan daerah.

“Diskon pajak, pemutihan denda, promosi layanan, itu strategi dasar yang belum dimanfaatkan maksimal. Padahal ini bisa langsung mendongkrak minat wajib pajak,” ujarnya.

Ia juga mendorong strategi ekstensifikasi dengan mencari sumber-sumber PAD baru. Salah satu ide konkret yang ia tawarkan adalah membentuk UPTD Laboratorium yang bisa melayani pengujian mutu dan hasil produksi, baik dari sektor perikanan, pertanian, maupun industri kecil.

“Kita punya fasilitas lab di beberapa OPD, tapi belum terkelola jadi unit usaha daerah. Kalau dioptimalkan, ini bisa jadi sumber PAD baru yang sustain,” tambahnya.

Masalah lain yang menjadi sorotan Wahyu adalah lemahnya optimalisasi aset daerah. Menurutnya, masih banyak aset milik Pemprov Kepri yang menganggur tanpa manfaat ekonomi apa pun.

“Aset-aset seperti lahan kosong, bangunan mangkrak, gudang tidak dipakai, itu semua bisa disewakan atau dikerjasamakan dengan investor. Tapi dibiarkan tidur,” lanjutnya. (*/hq)

Bupati Cen Sui Lan Sampaikan Proposal Bandara Baru ke DPR RI

Bupati Cen Sui Lan menyampaikan proposal pembangunan bandara baru ke pemerintah pusat melalui Komisi IV DPR RI pada Rabu (29/10/2025).
Haqqnews.co.id – Bupati Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Cen Sui Lan meminta agar pemerintah pusat membangun bandara baru di pulau paling utara Indonesia itu.

Cen pada Rabu (29/10/2025) menyampaikan proposal pembangunan bandara itu melalui Komisi IV DPRRI yang sedang melakukan kunjungan kerja di Kepri.

Sang bupati tidak merinci lebih jauh proposal yang ia sampaikan, tapi hal tersebut merupakan langkah konkret dari Pemda Natuna. Bandara baru sudah sangat mendesak bagi Natuna, guna mendorong peningkatan aksesibilitas udara yang lebih representatif,  menunjang konektivitas antarwilayah, dan mendukung aktivitas ekonomi serta pertahanan wilayah perbatasan.

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus menyambut baik masukan dan aspirasi yang disampaikan oleh pemerintah daerah. Mereka menilai bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan harus menjadi prioritas nasional, tidak hanya demi pemerataan pembangunan, tetapi juga sebagai bentuk konkret menjaga kedaulatan dan keamanan negara di kawasan strategis tersebut.

Melalui pertemuan ini, diharapkan terjalin sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, DPR RI, dan pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan wilayah perbatasan Kepulauan Riau, khususnya Kabupaten Natuna. Dengan adanya perhatian dan kebijakan afirmatif yang berpihak pada daerah terluar, Natuna diharapkan dapat tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi, transportasi, dan pertahanan yang mencerminkan wajah sejati NKRI di perbatasan utara. (*/hq1)

Inilah Dosa Pertama Makhluk dan Tips Mengatasinya

Ilustrasi

Haqqnews.co.id – Fulan adalah seorang pegawai kantoran. Suatu hari, ia sering merasa gelisah setiap kali melihat rekan kerjanya dipuji oleh atasan karena kinerjanya yang baik. Ia mulai berpikir buruk, berharap agar rekannya gagal, jatuh, dan terkena musibah. Namun sejak itu, hati Fulan tidak pernah tenang, pekerjaannya terasa berat, dan setiap ia melihat keberhasilan rekannya itu seolah menjadi duri dalam dadanya.

Ilustrasi di atas merupakan contoh kasus bagaimana penyakit hasad atau iri dapat membuat pelakunya hidup sengsara sebab hatinya dipenuhi oleh keinginan orang lain terjatuh, baik dengan hilangnya kenikmatan maupun tertimpa musibah. Simak penjelasan Al-Ghazali terkait hasad berikut:

  ‌الْحَسَدُ وَهُوَ أَنْ يَحْمِلَكَ الْحِقْدُ عَلَى أن تتمنى زوال النعمة عنه فتغثم بِنِعْمَةٍ إِنْ أَصَابَهَا وَتُسَرَّ بِمُصِيبَةٍ إِنْ نَزَلَتْ به وهذا من فعل المنافقين

Artinya: “Hasad ialah dorongan dari rasa iri dengan menginginkan hilangnya kenikmatan pada diri orang lain, merasa susah saat orang lain mendapatkan kenikmatan dan bahagia saat orang lain mendapatkan musibah. Ini merupakan sifat orang-orang munafik”. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Jeddah: Dar Al-Minhaj, 2011], juz 5 hal 646).

Dalam Al-Qur’an, penyakit hasad disebutkan dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 54 berikut:

  اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا

Artinya: “Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka”. (Qs. An-Nisa: 54)

Ayat di atas merupakan sindiran berupa “istifham ingkari” (pertanyaan yang berisi pengingkaran) yang ditujukan kepada Ahli Kitab yang kufur karena iri terhadap nubuwah Nabi Muhammad Saw yang bukan dari kalangan mereka. Dalam hal ini, Allah Swt kemudian memberikan penjelasan bahwa risalah yang turun pada Nabi Muhammad Saw merupakan anugerah dari Allah Swt. Terkait hal tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan:

  يَعْنِي بِذَلِكَ حَسَدَهُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَا رَزَقَهُ اللَّهُ مِنَ النُّبُوَّةِ الْعَظِيمَةِ، وَمَنَعَهَمْ مِنْ تَصْدِيقِهِمْ إِيَّاهُ حَسَدُهُمْ لَهُ، لِكَوْنِهِ مِنَ الْعَرَبِ وَلَيْسَ من بني إسرائيل

Artinya: “Mereka (Ahli Kitab) iri terhadap anugerah kenabian yang agung yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw. Sehingga mereka mengingkari untuk membenarkannya sebab sifat hasad mereka. Hal itu dikarenakan Nabi Muhammad Saw adalah bangsa Arab bukan dari kalangan Bani Israil” (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1419 H], juz II, hal 296).

Dosa Pertama yang dilakukan Makhluk Dalam Islam, hasad atau iri hati termasuk salah satu penyakit hati yang mendapat perhatian khusus di kalangan ulama. Sebab hasad tidak hanya berdampak pada aspek spiritual individu, tetapi juga berimplikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Hasad menumbuhkan kebencian, menurunkan kepercayaan sosial, serta menghambat tumbuhnya solidaritas dan etos kerja kolektif.

Bahkan menurut sebagian ulama salaf, dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk kepada Allah Swt disebabkan sifat hasad.

  قال بعض السلف أول خطيئة هِيَ الْحَسَدُ ‌حَسَدَ إِبْلِيسُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى رُتْبَتِهِ فَأَبَى أَنْ يَسْجُدَ لَهُ فَحَمَلَهُ على الحسد والمعصية

Artinya: “Sebagian ulama salaf berkata: dosa pertama yang dilakukan ialah hasad yaitu hasad yang dilakukan oleh Iblis kepada Adam as atas kedudukannya. Iblis enggan sujud menghormati Adam atas perintah Allah yang mendorongnya melakukan hasad dan maksiat.” (Al-Ghazali, 672)

Dalam kasus yang lain yang juga dikisahkan dalam Al-Qur’an, ilustrasi kisah pembunuhan pertama oleh anak Nabi Adam as yaitu Qabil terhadap Habil juga dilatarbelakangi oleh hasad.

Cara Mengatasi Penyakit Hasad Dalam Islam, hasad termasuk penyakit hati yang cukup berat. Lantas bagaimana cara mengatasinya? Berikut adalah beberapa tips untuk mengatasi penyakit hasad:

1. Menyadari semua nikmat dari Allah

Penyakit hasad timbul karena seseorang tidak menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah Swt. Dengan menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, maka seseorang akan terhindar dari sifat hasad.

2. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah

Setelah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, maka tahap selanjutnya ialah bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah. Dengan bersyukur, maka seseorang akan bisa lebih fokus terhadap nilai dan perkembangan diri sendiri.

Dalam psikologi industri, terdapat istilah sikap kerja yang disebut Job involvement atau keterlibatan kerja yang diartikan sebagai tingkat di mana seseorang mengenal pekerjaannya secara psikologi dan merasakan tingkat kinerja mereka itu penting bagi harga diri.

Karyawan yang memiliki tingkat keterlibatan kerja tinggi akan sangat mengenali pekerjaannya dan benar-benar perhatian terhadap apa saja pekerjaan yang dilakukan. (Dr. Umi Anugerah Izzati, dkk. Psikologi Industri dan Organisasi, [Surabaya: Bintang Surabaya, 2019], hal 52)

Dalam kasus pegawai yang iri dengan rekannya di atas, bersyukur dan melakukan komitmen terhadap diri sendiri dalam bekerja akan membuat hati menjadi lebih tenang dan pekerjaan lebih maksimal. Bahkan Allah Swt menjanjikan bagi siapa saja yang bersyukur akan ditambahkan nikmat oleh Allah Swt.

3. Mengetahui bahaya hasad

Tips ketiga agar terhindar dari hasad ialah mengetahui bahwa bahaya hasad justru akan datang pada diri sendiri, bukan pada orang yang dihasudi. Hasad berbahaya bagi diri sendiri, baik dalam urusan dunia maupun agama. Dalam urusan agama, dengan hasad, seseorang dapat dianggap tidak menerima keputusan Allah Swt dan tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan serta menganggap Allah tidak adil terhadap makhluk-Nya. Sedangkan dalam urusan dunia, dengan hasad seseorang akan merasakan sakit hati yang mendalam disebabkan hasad di dalam hatinya. (Al-Ghazali, hal 701)

4. Tidak ada dampak pada orang yang dihasadi

Tips keempat yang dapat dilakukan agar terlepas dari bahaya hasad ialah dengan menyadari bahwa orang yang dihasadi tidak akan mendapatkan dampak apapun terhadap hasad yang dilakukan. Itu hanya akan menyakiti diri sendiri dan tidak berdampak pada orang lain. (Al-Ghazali, 702)

Hasad yang diperbolehkan dalam Islam Meski pada dasarnya hasad tidak diperkenankan dalam Islam, namun terdapat dua hasad yang dibolehkan dalam Islam tapi bukan sebagai suatu keburukan, melainkan sebagai motivasi agar bisa mengikuti jejak orang yang dihasudi.

Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا حسَدَ إلَّا في اثنتَيْنِ : رجُل آتاه اللهُ مالًا فسلَّطه على هلَكتِه في الحقِّ ورجُل آتاه اللهُ     حِكمةً فهو يقضي بها ويُعلِّمُها

Artinya: “Nabi Muhammad Saw bersabda: tidak diperkenankan hasad kecuali pada dua orang yaitu seseorang yang Allah berikan harta yang ia belanjakan hartanya untuk kebenaran dan seseorang yang Allah beri ilmu yang ia amalkan dan ajarkan”. (Muttafaqun alaih)    Dengan demikian, pada dasarnya hasad merupakan penyakit hati yang harus dihindari karena dapat merusak diri sendiri, baik dalam urusan dunia maupun agama. Namun demikian, ada dua hasad yang diperbolehkan dan bisa dijadikan sebagai motivasi untuk mengikutinya, yaitu pada orang yang hartanya diinfakkan di jalan Allah dan ilmunya diamalkan serta diajarkan pada orang lain.

Wallahu a’lam  

Alwi Jamalulel Ubab, Alumni Khas Kempek Cirebon dan Mahad Aly Jakarta

(sumber: nu.or.id)

PWI Kepri dan STIQ Kepri Satukan Misi Dakwah dan Media

Berpose seusai mengikuti Seminar Jurnalisme Dakwah, Selasa (28/10/2025).

Haqqnews.co.id – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau bersama Sekolah Tinggi Ilmu Quran (STIQ) Kepri berkolaborasi dalam sebuah agenda intelektual bertajuk ”Seminar Jurnalisme Dakwah”, pada Selasa (28/10/2025).

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara dua misi besar: menyebarkan kebenaran melalui dakwah dan menjaga kebenaran melalui media.

Seminar yang digelar di aula STIQ Kepri itu menghadirkan Saibansah Dardani, Ketua PWI Kepri sekaligus Ketua Dema pertama STIQ Kepri, sebagai narasumber utama. Adapun Muharris Baihaqi, Ketua Departemen Sosial Dema STIQ Kepri, bertindak sebagai moderator.

Dalam paparannya, Saibansah Dardani menjelaskan bahwa jurnalisme dan dakwah memiliki ruh yang sama, keduanya bertujuan menyampaikan kebenaran kepada umat. Ia mengutip Surah An-Nahl ayat 125, yang menegaskan pentingnya berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

“Jurnalisme sejatinya adalah dakwah dengan pena. Wartawan muslim punya tanggung jawab moral untuk menyebarkan nilai kebaikan melalui tulisan,” ujar Saibansah di hadapan peserta seminar.

Menurutnya, di era digital batas antara dakwah dan jurnalisme semakin tipis. Media sosial, portal berita, podcast, hingga YouTube kini menjadi mimbar dakwah modern. Karena itu, wartawan dan dai perlu berjalan beriringan dalam misi menyebarkan nilai-nilai Islam secara bijak dan beretika.

Peran Strategis Jurnalisme Dakwah

Saibansah menguraikan lima peran utama jurnalisme dalam konteks dakwah Islam:

1. Penyebar nilai-nilai Islam— melalui berita yang menonjolkan kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.
2. Penegak amar ma’ruf nahi munkar — dengan mengangkat peristiwa positif dan mengkritisi kemungkaran sosial.
3. Pencerah masyarakat — memberi edukasi keagamaan agar umat memahami Islam secara wasathiyah (moderat).
4. Pelindung dari hoaks dan disinformasi — dengan prinsip tabayyun (verifikasi) dan tanggung jawab moral.
5. Sarana dakwah kreatif — memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan Islam dalam bentuk artikel, video, dan infografis.

“Setiap tulisan yang membawa nilai kebaikan bisa menjadi amal jariyah. Itulah kekuatan jurnalisme dakwah,” tambahnya.

Saibansah juga menyoroti pentingnya etika dalam praktik jurnalisme Islam. Wartawan muslim, katanya, harus menjunjung tinggi prinsip ṣidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), dan adil (tidak memihak).

Ia menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menjadi dasar hukum kegiatan jurnalistik di Indonesia, termasuk bagi wartawan muslim. Kode Etik Jurnalistik harus dijalankan sebagai pedoman moral dalam setiap pemberitaan.

“Kemerdekaan pers adalah amanah besar. Tapi di tangan jurnalis muslim, kemerdekaan itu harus disertai tanggung jawab dakwah,” tegasnya.

Ketua Dema STIQ Kepri, Qayyum, menyebut tema “Jurnalisme Dakwah” sangat relevan dengan karakter kampus. Ia menilai seminar ini membuka kesadaran baru bagi mahasiswa bahwa pena dan media bisa menjadi alat dakwah yang kuat.

“Banyak mahasiswa yang punya minat menulis dan berdakwah. Kami berencana membentuk pers kampus sebagai wadah pengembangan jurnalistik Islami,” ujar Qayyum.

Kolaborasi antara PWI Kepri dan STIQ Kepri ini diharapkan menjadi langkah awal melahirkan generasi jurnalis muslim yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas.
Keduanya bersepakat untuk terus memperkuat sinergi dakwah dan media dalam membangun peradaban informasi yang beretika dan mencerdaskan.

“Dakwah butuh media, dan media butuh nilai dakwah agar tidak kehilangan arah,” tutup Saibansah Dardani dengan penuh makna. (*/hq1)

Labuh Jangkar, Fokus Ketua Iman Atasi Ruang Fiskal Kepri

Diskusi yang berlangsung di ruang tamu Ketua DPRD Kepri, H. Iman Sutiawan, di Dompak Tanjungpinang, Senin (20/10/2025).

SEBUAH diskusi terjadi siang itu. Di Pulau Dompak. Tepatnya di ruang tamu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban. Canda dan tawa terdengar memenuhi ruangan.

Ketua DPRD Kepri, H. Iman Sutiawan, SE, M.M. kerap menyelipkan humor. Meski campuran Sunda-Melayu, Iman anak kelahiran Pulau Kasu, Belakangpadang, Batam. Logat melayunya lebih kental dari Sunda.

Hadir di samping Iman, Plt. Sekwan Ika Hasilah dan Isnaini Bayu Wibowo, Kabag Umum dan Kehumasan.

Senin (20/10/2025) itu, Sang Ketua Iman berdiskusi dengan tamu dari Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri. Dihadiri Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Provinsi Kepri Saibansah Dardani, Ketua Dewan Penasehat Marganas Nainggolan, Ketua Dewan Kehormatan Parna Simarmata, Ketua Dewan Pakar Ramon Damora, Wakil Ketua PWI Arham serta pengurus lainnya.

“Sebenarnya pertemuan bisa saja di Batam. Namun Dompak (pulau kantor DPRD Kepri bertempat, red) perlu kawan-kawan lihat langsung. Biar pengurus PWI Kepri merasakan gelombang laut,” tutur Iman sembari melempar senyum.

Ide-ide mengalir dari pengurus PWI Kepri. Iman menampung dan menanggapi usul saran dan pertanyaan satu per satu.

Diskusi agak serius soal ruang fiskal Kepri. Ruang fiksal Kepri kian menyempit akibat berkurangnya dana transfer ke daerah (TKD).

Kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) belum bisa mengimbangi penurunan TKD. APBD 2026 bakal anjlok signifikan ke angka Rp 3,2 triliun.

Era pengurangan TKD akan membuat Kepri sulit untuk mencapai APBD di atas Rp 4 triliun. Meskipun beberapa periode sebenarnya angka itu sudah tercapai dan bukan mustahil bagi Kepri.

Akibat anjloknya APBD 2026, berbagai kegiatan dan pembangunan untuk masyarakat bisa saja tertunda. Penggunaan APBD harus betul-betul prioritas dan tepat sasaran.

Tak Mau Dianggap Tidur-Tidur

Kondisi ruang fiskal menyempit cukup ironis bagi Kepri. Selama ini Kepri terkenal sebagai ‘Lumbung Potensi’. Kepri mempunyai wilayah 96 persen lautan. Potensi sumber daya alam, terutama kemaritiman begitu besar. Namun potensi itu belum bisa terkelola dengan baik.

Menyinggung ‘Lumbung Potensi’ seketika wajah Iman Sutiawan berubah serius. Bagi Iman, masalah ini sedang menjadi fokusnya di DPRD Provins Kepri. Iman tidak ingin nanti masyarakat menganggapnya tidur-tidur. Hal itu merupakan kewajiban Sang Ketua untuk mencari solusi, agar potensi tersebut bukan sekadar catatan dalam angka.

Iman memaparkan banyak sekali potensi kemaritiman Kepri, mulai dari perikanan tangkap, perikanan budidaya hingga pariwisata bahari. Di sektor lain, juga ada berbagai jenis tambang seperti pasir kuarsa dan timah. Jika potensi tersebut tidak terangkut semua keluar Kepri, maka angkanya sangat besar untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat Kepri.

“Harapan kita sumber daya alam Kepri ya, tidak diangkut semua,” imbuh Iman.

Selama ini semua kekayaan alam tersebut mengalir jauh ke pusat. Sebagian Iman menyebutnya bocor. Kalau pun ada yang kenbali ke daerah, angkanya tidak signifikan. Tentu pengembalian merupakan bagian dari TKD yang berkurang itu.

Labuh Jangkar Solusi Jangka Pendek  

Menurut pandangan Iman Sutiawan, dari ‘lumbung potensi’ Kepri, labuh jangkar bisa menjadi solusi jangka pendek. “Dari sumber daya alam kemaritiman yang begitu besar, sektor jasa labuh jangkar bisa kita andalkan dengan cepat. Kekayaan-kekayaan lain juga bisa, tapi masih butuh proses panjang,” papar Wakil Ketua HNSI Kota Batam 2010-2013 ini.

Itu sebabnya Sang Ketua Iman, sudah menyurati Kementerian Perhubungan. Sebab kementerian inilah yang mempunyai kewenangan untuk memberikan hak pengelolaan jasa labuh jangkar atau parkir ruang laut 0 – 12 mil dari garis pantai.

DPRD juga sudah menyurati DPR RI untuk mendorong pemberian hak pengelolaan jasa labuh jangkar kepada Provinsi Kepri. Sebab sejauh ini, secara administratif, pengelolaan tersebut masih memerlukan aturan bersama yang harus ditandatangani antara Menteri Perhubungan dan Gubernur Kepri sebagai landasan resmi untuk pelaksanaannya.

“Kuncinya sebenarnya adalah kolaborasi pengelolaan kemaritiman. Khususnya lagi sektor labuh jangkar, baru ini bisa terlaksana,” imbuh mantan Wakil Ketua DPRD Kota Batam ini.

Realisasi labuh jangkar mustahil akan terealisasi tanpa kolaborasi berbagai pihak. Disebutkan Iman, mulai dari daerah dan pusat, kolaborasi antara DPRD dan DPR RI, kolaborasi Pemda dan Kementerian Perhubungan, termasuk pengusaha dan Pemda sendiri.

“Kita mempunyai empat orang anggota DPR RI asal Kepri, yang bisa mendorong cepat terlaksana dan terealisasinya labuh jangkar di Kepri. Kita mengajak dan menyuratinya secara resmi,” ujar Iman.

Upaya kolaborasi untuk pelimpahan kewenangan Kementerian Perhubungan dalam pengelolaan labuh jangkar bertujuan agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kepri dapat meningkat dari sektor ini. Dari kajian-kajian sebelumnya, baik dari kementerian maupun Pemprov Kepri, potensinya mencapai Rp 1,5 – Rp 3 triliun per tahun.

Potensi itu berasal dari enam titik utama labuh jangkar yang ada di Kepri, yaitu di Tanjungbalai Karimun, Pulau Nipah, Pulau Galang, Kabil, Tanjung Berakit, dan wilayah Batuampar serta Sekupang. (hq1)

PWI Kepri Aksi Ruqyah On The Street, Doakan Keselamatan Pengendara

PWI Kepri menggelar Ruqyah On The Street di Simpang Vidka Tiban, Batam, pada Minggu (26/10/2025).

Haqqnews.co.id – Aksi Ruqyah On The Street menyita perhatian warga Tiban, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasinya bukan di masjid atau majelis taklim, melainkan di Simpang Lampu Merah Vidka, Tiban, titik rawan kecelakaan maut yang berkali-kali merenggut nyawa.

Aksi Ruqyah On The Street digagas Wakil Ketua Seksi Rohani PWI Kepri, Ustad Chandra P. Pusponegoro, didampingi Wakil Sekretaris PWI Kepri Muhammad Ikhsan. Ustad Chndra memimpin pembacaan doa keselamatan dan ruqyah syar’iyyah di lokasi tersebut. Dengan khusyuk, ia menyiramkan air dari empat botol yang diambil dari air sumur—bagian dari metode ruqyah untuk meneduhkan dan menenteramkan suasana, sesuai syariat.

“Saya tidak sanggup menahan air mata. Saat melewati beberapa titik, saya merasakan betapa banyak tragedi yang merenggut nyawa di sini,” ungkap Ustad Chandra.

Waluyo, warga Tiban Nirwana Residence, membenarkan bahwa simpang tersebut sudah lebih dari lima kali memakan korban jiwa. “Salah satunya kecelakaan kontainer yang menewaskan seorang perwira Polwan di tempat,” ujarnya.

Selain truk rem blong yang meluncur dari jalan turunan, pengendara sepeda motor juga sering mengalami kecelakaan adu kambing, terutama pada malam hari. Jalan ini kerap dilalui anak sekolah berseragam Melayu pada hari Jumat, serta ibu-ibu yang berjalan kaki, sehingga sangat rawan jika kendaraan kehilangan kendali saat lampu merah.

Aksi ruqyah ini turut dihadiri pengurus PWI Kepri, seperti, Nov Iwandra, Zabur Anjasfianto, Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan, Muhammad Ikhsan, Wakil Sekretaris PWI Kepri

Secara terpisah, Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani menyampaikan dukungan penuh. “Kami mendukung kegiatan ruqyah syariah ini sebagai bentuk ikhtiar menyelamatkan warga Batam di jalan raya. Semoga masyarakat semakin waspada saat berkendara,” ujarnya.

Sebelum di Simpang Vidka, Ustad Chandra juga pernah merukyah Jembatan Barelang, lokasi yang kerap dikaitkan dengan kecelakaan dan kejadian mistis. Ruqyah On The Street menjadi gerakan sosial-spiritual yang menyatukan doa, kepedulian, dan keselamatan publik. (*/hq1)

Resmi, Anwar Saleh Jabat Plt. Ketua PWI Natuna dan Aulia Rahman Sekretaris

Anwar Saleh (tengah) menerima SK Plt. Ketua PWI Natuna dari Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani, pada Kamis (23/10/2025) di Cafe' Ranai Square, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri.

Ketua PWI Kepri Terbang ke Natuna Serahkan SK 

Haqqnews.co.id – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pelaksana Tugas (Plt.) Pengurus PWI Kabupaten Natuna.

Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani turun ke Natuna menyerahkan SK Plt. Ketua PWI Natuna, pada Kamis (23/10/2025) di Cafe’ Ranai Square Natuna. PWI Kepri di dalam SK-nya menunjuk Anwar Saleh sebagai Plt. Ketua PWI Natuna.

Ikut mendampingi Saiban, Ketua Dewan Pensehat PWI Kepri Marganas Nainggolan, dan Wakil Ketua PWI Bidang Pembinaan Daerah, Arham. Anwar sendiri merupakan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Kepri. Hadir saat penyerahan SK, Wakil Bupati Natuna Jarmin Sidik, perwakilan Dinas Kominfo Natuna, dan seluruh anggota PWI Natuna.

Saibansah dalam sambutan resminya menegaskan bahwa kehadiran PWI Kepri di Natuna bukan sekadar untuk menyerahkan SK Plt. Ketua PWI Natuna. Namun juga untuk memastikan roda organisasi wartawan tertua di Indonesia ini kembali berjalan aktif dan berperan sebagaimana mestinya.

“Kami ingin memastikan PWI Natuna kembali bergerak normal, membangun komunikasi, memperkuat koordinasi, dan menjalankan fungsi organisasi sebagai bagian dari warga negara,” imbuh Saibansah.

Saibansah mengingatkan, PWI lahir dari semangat perjuangan para wartawan yang turut membidani lahirnya Republik Indonesia pada 9 Februari 1946 di Surakarta — yang kini diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN).

“PWI adalah organisasi perjuangan. Didirikan oleh wartawan yang menjadikan pena sebagai alat perjuangan. Semangat inilah yang harus kita warisi,” ucapnya.

Ia menambahkan, semangat wartawan pejuang menjadi sangat relevan di Natuna yang memiliki tantangan geografis dan dinamika sosial yang khas. Wartawan, kata Saibansah, harus tetap teguh pada kebenaran dan tanggung jawab profesi, meski menghadapi berbagai keterbatasan di daerah perbatasan.

Ketua Dewan Penasehat PWI Kepri, Marganas Nainggolan menyerahkan SK Sekretaris PWI Natuna kepada Aulia Rahman.

PWI Kepri, lanjut Saibansah, terus berkomitmen meningkatkan kapasitas wartawan di daerah. Salah satunya melalui program pelatihan wawasan kebangsaan dan perbatasan yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

“Upaya ini tidak akan berhenti. Kami ingin menjadikan PWI sebagai rumah besar bagi seluruh wartawan, tempat belajar, memperkuat kemampuan menulis, dan menjaga marwah profesi,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Saibansah mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan profesi wartawan yang bekerja di bawah perlindungan undang-undang.

“Undang-undang memberi kita hak untuk bertanya, menggali informasi, dan menyampaikan kebenaran kepada publik. Karena itu, kehormatan profesi ini harus kita jaga bersama,” katanya.

Ia menegaskan, tugas wartawan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mencerdaskan, mencerahkan, serta menumbuhkan kepercayaan publik terhadap pers yang beretika, independen, dan bertanggung jawab.

Berikut Pengurus PWI Kabupaten Natuna :

Plt. Ketua: Anwar Saleh (Kepri.co.id)

Wakil Ketua: Erwin Johanes Simanungkalit (Potretnusantara.id)

Sekretaris: Aulia Rahman (Gudangberita.co.id)

Wakil Sekretaris: Amran (Koranperbatasan.com)

Bendahara: Suparman (Detikglobalnew.com)

Bidang Organisasi dan Keanggotaan: Doni Papilius (Bursakota.co.id)

Bidang Kesejahteraan: Faturrahman (Haluan Kepri.com)

Bidang TNI – Polri: Riky Rinopski (Gurindam.id)

Bidang Kelautan dan Pertambangan: Fredy Silalahi (Batamtoday.com)

Bidang Humas dan Digital:
Putra Mardianto (Peristiwanusantara.com)
Abed Simamora (kepri.co.id)

Bidang Pendidikan, Kerjasama & Kemitraan:
Zamzukri (Posmetro Batam)

Said Salman (Antena.id)

Bidang Pembelaan dan Hukum: Hardiansyah (Ignnews.id)

(*/hq1)

PWI Kepri Apresiasi Komitmen Kapolres Natuna Perkuat Sinergi Pers dan Polri

Kapolres Natuna, AKBP Novyan Aries Efendie berpose bersama pengurus PWI Kepri di Mapolres Natuna, pada Rabu (22/10/2025).

Haqqnews.co.id – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan Polri, khususnya dalam mendukung keterbukaan informasi publik dan terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif.

Hal ini disampaikan Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani saat menghadiri kegiatan ramah tamah bersama Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie, S.H., S.I.K., M.M., M.Tr.Opsla di Mapolres Natuna, pada Selasa (22/10/2025).

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut turut dihadiri Dewan Penasehat PWI Kepri Marganas Nainggolan, Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Kepri Arham, Plt. Ketua PWI Natuna Anwar Saleh Harahap, dan sejumlah anggota PWI Natuna.

Dialog ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pola komunikasi dan sinergitas antara kepolisian dan insan pers di daerah perbatasan.

Dalam sambutannya, AKBP Novyan Aries Efendie menyampaikan apresiasi atas kontribusi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis Polri dalam menyampaikan informasi yang edukatif, berimbang, dan konstruktif kepada publik.

“PWI dan seluruh insan pers memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas kamtibmas melalui pemberitaan yang akurat dan bertanggung jawab. Kami sangat menghargai sinergi ini,” imbuh Kapolres.

Usai ramah tamah, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama di Gedung Catur Prasetya Polres Natuna, menambah nuansa kebersamaan dan kekeluargaan antara aparat kepolisian dan jurnalis.

Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani menyampaikan terima kasih atas undangan dan sambutan hangat yang diberikan oleh Kapolres Natuna dan jajaran.

Ia menegaskan bahwa PWI siap menjadi mitra strategis Polri dalam mewujudkan penyampaian informasi yang transparan, profesional, dan berpihak pada kepentingan publik.

“Sinergitas ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Kami berkomitmen mendukung Polri dalam menciptakan Natuna yang aman, damai, dan informatif,” ucap Saiban.

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol soliditas dan komitmen bersama antara Polres Natuna dan PWI Kepri dalam menjaga integritas informasi serta membangun hubungan kemitraan yang produktif. (*/hq1)