back to top
27.2 C
Riau Islands
Rabu 4 Maret 2026
Beranda blog

Rayakan Makna Ramadan, HARRIS Barelang Batam Hadirkan Paket Menginap 24 Jam Termasuk Iftar

Merayakan “Makna Ramadan” di HARRIS Barelang. Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. (Foto: HARRIS Barelang Batam)

Haqqnews.co.id – Menyambut bulan suci Ramadan, HARRIS Barelang Batam menghadirkan program spesial 24 Hours Stay yang memberikan fleksibilitas waktu check-in dan check-out selama 24 jam penuh, dilengkapi dengan pengalaman berbuka puasa dalam konsep “Makna Ramadan – Journey of Flavours.”

Paket menginap ini ditawarkan mulai dari IDR 1.100.000 nett per kamar per malam untuk tipe HARRIS Room Garden View, yang sudah termasuk iftar buffet untuk 2 orang, sahur atau sarapan untuk 2 dewasa dan 2 anak di bawah 6 tahun, serta 1 jam penggunaan electric scooter.

Rayakan “Makna Ramadan” di HARRIS Barelang Batam.

Selain paket menginap, tamu juga dapat menikmati sajian berbuka puasa dengan harga IDR 230.000 nett per orang, menghadirkan menu yang berganti setiap hari mulai dari hidangan Nusantara, Thailand, Korea hingga Timur Tengah, lengkap dengan live cooking station, aneka takjil, hidangan utama, dan pilihan dessert.

Berbagai penawaran menarik turut dihadirkan, seperti:

Diskon 50% untuk anak usia 6 – 11 tahun

Promo Buy 4 Get 5 sebelum Ramadan

Promo Buy 10 Get 12 selama Ramadan

Harga spesial ASR Member IDR 215.000 nett per orang

Rayakan “Makna Ramadan”, di HARRIS Barelang Batam.

Bart Jan Van Den Brink, General Manager HARRIS Barelang Batam, mengatakan bahwa program ini dirancang untuk memberikan kemudahan bagi tamu dalam menikmati momen kebersamaan selama Ramadan.

“Melalui paket 24 Hours Stay yang sudah termasuk iftar untuk dua orang serta Makna Ramadan – Journey of Flavours, kami ingin menghadirkan pengalaman menginap dan berbuka puasa yang praktis, nyaman, dan penuh kehangatan bagi para tamu,” ujarnya.

Reservasi dapat dilakukan melalui WhatsApp di +62 815 3409 1111 atau email ke reservation.hbrl@the-ascott.com. Informasi terbaru tersedia melalui Instagram @HARRIS_barelang dan situs bit.ly/HARRISBARELANG

(*/hq1)

Ribuan PNS Kepri Hadapi Krisis Keuangan Akut Jelang Ramadan 

Ilustrasi

Haqqnews.co.id Ribuan pegawai negeri sipil (PNS) Pemprov Kepulauan Riau menghadapi krisis keuangan akut. Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Desember 2025 dipotong 50 persen lebih untuk bayar pajak, sedangkan TPP Januari 2026 belum cair hingga awal Februari ini.

Kondisi ini memukul keras PNS terlebih TPP sudah menjadi sumber penghasilan utama. Pemotongan dan keterlambatan menciptakan kehilangan pendapatan yang hampir dua bulan.

“Ini benar-benar parah sih. Desember dapat setengah, Januari sampai sekarang belum ada kabar. Bagaimana kami mau mempersiapkan kebutuhan Ramadan?” keluh seorang PNS Pemprov Kepri, Rabu (4/2/2026).

Dia enggan menyebutkan identitas karena khawatir mendapat tekanan dari atasan.

Keterlambatan memperparah situasi. Ramadan 1447 H diprediksi jatuh jelang akhir Februari 2026, artinya kebutuhan rumah tangga PNS akan melonjak dalam hitungan minggu. Sementara itu, pendapatan mereka justru anjlok drastis.

Ketidakpastian juga membayangi. Mulai 2026, Pemprov Kepri memangkas TPP secara permanen 7,65 persen untuk dialokasikan ke tunjangan PPPK. Pemerintah provinsi juga hanya menganggarkan TPP untuk 10 bulan, bukan 12 bulan seperti biasanya.

Terpaksa Putar Otak 

Sejumlah PNS terpaksa meminjam uang untuk bertahan hidup. Ada yang berutang ke keluarga dan teman, ada pula yang nekat mencari pinjaman sana-sini.

“Kami tidak mau, tapi terpaksa. Anak-anak harus tetap sekolah, tagihan listrik dan air harus dibayar,” kata seorang PNS yang mengaku sudah berutang ke teman.

PNS lain mencari penghasilan tambahan. Sebagian berhemat ketat dengan memangkas pengeluaran, sebagian lagi membuka usaha sampingan seperti berjualan online atau menjadi reseller produk.

Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kepri belum memberikan kepastian kapan TPP Januari 2026 dicairkan. Keterlambatan serupa kerap terjadi karena pemda memprioritaskan pelunasan tunggakan dan menunggu dana transfer dari pemerintah pusat masuk ke kas daerah.

DPRD dan Pemprov Kepri telah sepakat menunda penganggaran TPP dua bulan pada APBD 2026. Keputusan ini diambil setelah pemerintah pusat memangkas Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp495 miliar.

Pemotongan TKD memaksa Pemprov Kepri mengencangkan ikat pinggang. Selain menunda TPP, pemerintah provinsi memangkas TPP secara permanen 7,65 persen untuk menutup tunjangan ribuan PPPK yang terus bertambah.

Para PNS kini hanya bisa menunggu dan berharap pencairan segera dilakukan sebelum kebutuhan Ramadan semakin mendesak. (*/hq1)

Sambut HPN 2026, PWI Tanjungpinang Luncurkan Gerakan ‘Satu Jam Bersih’

Aksi gerakan "Satu Jam Tanjungpinang Bersih" yang digerakkan oleh PWI Kepri Pokja Tanjungpinang.

Haqqnews.co.id – Ratusan warga Tanjungpinang bergotong-royong membersihkan Pelataran Gedung Gonggong dan kawasan Tanjung Unggat, Selasa (3/2/2026). Aksi ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang jatuh pada 9 Februari.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Riau Pokja Tanjungpinang menggagas gerakan bernama “Satu Jam Tanjungpinang Bersih”. Kegiatan ini melibatkan wartawan, Pemkot Tanjungpinang, TNI/Polri, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK), Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah), STIE Pembangunan, komunitas Kombesgor, dan warga sekitar.

Ketua PWI Tanjungpinang Suhardi mengatakan gerakan ini dirancang berkelanjutan, bukan sekadar seremonial HPN. “Tagline ini sengaja kami luncurkan di momen HPN karena ini sejarah, ini harus berkelanjutan,” ujarnya.

Suhardi menegaskan aksi ini mencerminkan kepedulian PWI terhadap lingkungan sehat. “Kami ingin mengajak semua pihak bahwa menjaga lingkungan bersih itu penting untuk kesehatan dan tumbuh kembang generasi penerus,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tanjungpinang Ahmad Yani menyambut positif gerakan tersebut. Ia berharap lingkungan bersih meningkatkan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang.

“Kegiatan ini bernilai positif bagi pendatang yang datang ke Tanjungpinang,” kata Ahmad Yani.

Aksi gerakan “Satu Jam Tanjungpinang Bersih” yang digerakkan oleh PWI Kepri Pokja Tanjungpinang.
Donor Darah 5 Februari

PWI Tanjungpinang juga mengagendakan donor darah pada 5 Februari 2026 di Markas PMI Tanjungpinang. Kegiatan ini melibatkan Pemko, TNI/Polri, BNNK, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat umum.

PWI Kepri melalui Pokja Tanjungpinang menyediakan beras dan minuman gratis bagi pendonor. (*/hq1)

Turis Singgah Singkat ke Penyengat, Ekonomi Tanjungpinang Kian Terpuruk

Turis di Pulau Penyengat sedang berjalan di pelantar menuju gerbang Pulau Bersejarah tersebut.

Haqqnews.co.id – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi Kepulauan Riau melonjak hingga 20 persen pada 2025, tapi Tanjungpinang justru lesu. Wisman dari Singapura dan Malaysia hanya singgah singkat di Pulau Penyengat, lalu kembali menginap di Batam atau Bintan.

Akibatnya, ekonomi lokal nyaris tak bergerak. Hotel dan restoran sepi, UMKM lokal kesulitan untuk bertahan. Mereka wisman tanpa menginap, sektor akomodasi dan kuliner Tanjungpinang tak kebagian rezeki.

Data BPS mencatat wisman Kepri mencapai 1,7 juta orang sepanjang 2025. Batam menyerap 81 persen atau lebih dari 1 juta wisman hingga Agustus. Tanjungpinang hanya kebagian 62 ribu wisman, jauh dari target 100 ribu. Itu pun hanya singgah singkat di Penyengat.

Pola kunjungan wisman memperparah situasi. Mereka naik ferry dari Batam, lanjut pompong ke Penyengat.  Di pulau bersejarah itu, mereka menghabiskan 15-30 menit mengunjungi Masjid Sultan Riau dan makam Raja Ali Haji, lalu pulang.

Hanya segelintir pelaku usaha yang diuntungkan. Ojek bentor dan kapal pompong meraup Rp500 ribu per hari saat ramai. Namun penghasilan itu tak cukup menggerakkan roda ekonomi kota.

Saat Penyengat Heritage Fest 2025, okupansi homestay sempat naik. Tapi di luar event, kondisi kembali sepi.

“Kami singgah Penyengat sekejap, lepas tu balik ke Batam petang ni,” ujar seorang wisman asal Johor Malaysia yang tergabung dalam sebuah grup wisman, Sabtu (31/1/2026).

PHK massal di jiran Singapura yang melemahkan ekonomi negara tetangga justru mendorong warganya berbelanja ke Batam, bukan Tanjungpinang. (hq1)

Bangga dan Haru, Ketua PWI Kepri Cak Iban Dipercaya Layani Jamaah di Tanah Suci

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Menhaj usai mengukuhkan 1.622 petugas haji di Lapangan Galaxy Markas Komando Angkatan Udara (Makodau) I Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (30/1/2026) pagi.

Haqqnews.co.id – Dua puluh hari penuh disiplin, keringat, dan doa membuahkan hasil. Rasa syukur terpancar dari wajah Cak Iban—panggilan akrab—Saibansah Dardani, Ketua PWI Kepulauan Riau, yang resmi dikukuhkan menjadi petugas haji 1447 H/2026 M. Tak kurang, rasa bangga dan haru dirasakan pula anggota PWI Kepri ketika Cak Iban menerima amanah mulia melayani jamaah di Tanah Suci.

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Menhaj atau Gus Irfan, mengukuhkan Cak Iban bersama 1.621 petugas haji di Lapangan Galaxy Markas Komando Angkatan Udara (Makodau) I Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (30/1/2026) pagi.

Semula, dijadwalkan yang akan menutup Diklat (Pendikan dan Latihan) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M selama 20 hari itu adalah Presiden Prabowo Subianto. Tetapi akhirnya, diwakili oleh Gus Menhaj yang membacakan amanat Presiden. Sedangkan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, bertindak sebagai Komandan Upacara.

“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim dengan ini saya kukuhkan saudara-saudara menjadi petugas haji Indonesia 1447 H/2026 M. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan, kekuatan, dan kemudahan dalam setiap langkah pengabdian,” ujar Gus Irfan, membacakan amanat Presiden Prabowo Subianto, yang disiarkan di YouTube Kementerian Haji dan Umrah RI.

“Haji adalah amanah negara yang menyangkut kehormatan bangsa dan kepercayaan umat. Dengan jumlah jemaah terbesar di dunia, penyelenggaraan haji menuntut tata kelola yang tertib serta petugas yang berorientasi penuh pada pelayanan,” lanjut Gus Irfan, membacakan amanat Presiden Prabowo Subianto.

Cak Iban

Menhaj menekankan, petugas PPIH harus sigap, disiplin, dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada jemaah. Disiplin serta kesadaran dalam bertindak menjadi fondasi utama agar pelayanan tetap berintegritas dan tidak kehilangan nilai pengabdian.

“Tanpa disiplin, pelayanan akan kehilangan ruhnya. Hadirkan negara secara nyata melalui pelayanan prima. Setiap pelayanan yang diberikan kepada jemaah adalah wajah negara,” lanjutnya.

Selain itu, Gus Irfan mengingatkan pentingnya menjaga etika, integritas, dan komitmen untuk membawa nama baik Indonesia di mata dunia. Dengan ridho dan doa keluarga, para petugas diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan.

Melalui diklat ini, Kementerian Haji dan Umrah menegaskan kesiapan PPIH sebagai garda terdepan pelayanan haji, guna memastikan setiap jemaah memperoleh layanan yang aman, nyaman, dan bermartabat sebagai wujud nyata kehadiran negara.

Sementara itu, Saibansah Dardani seusai pengukuhan mengatakan, dirinya merasa sangat bersyukur karena sudah dapat menjalani program Diklat selama 20 hari dengan penuh semangat dan kegembiraan. Apalagi, dengan dibina dan dibimbing oleh para instruktur dan fasilitator dari TNI-Polri yang tegas dan penuh disiplin.

“Ternyata, setelah menjalani Diklat selama 20 hari, saya merasakan tubuh makin sehat dan fit, setiap hari saya menghitung langkah kaki saya, rata-rata 15-20 ribu langkah, alhamdulillah,” ujar Saibansah yang akrab disapa Cak Iban itu.

Cak Iban menambahkan, Diklat semi militer itu ternyata tidak mengerikan seperti yang dipikirkan orang. “Kami semua gembira dan senang dengan lingkungan baru, teman-teman baru dari seluruh Indonesia, berbagai profesi dan latar belakang, apalagi setiap hari kami menyanyikan lagu ‘Gembira’,” paparnya. (*/hq1)

Ascott Batam Ajak 286 Siswa Jadi “Little Heroes” Lingkungan

Program Ascott Region Batam memeringati Environmental Education Day 2026.

Haqqnews.co.id – Dalam rangka memeringati World Environmental Education Day 2026, Ascott Region Batam yang terdiri dari HARRIS Barelang Batam, HARRIS Waterfront Batam, HARRIS Nagoya Batam, HARRIS Batam Center, YELLO Harbour Bay, dan Oakwood Grand Batam, melalui program Ascott Cares, menyelenggarakan kegiatan edukasi lingkungan bertajuk “Little Heroes, Big Change” di SDN 001 Lubuk Baja, Batam.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Ascott Region Batam, Tanjunguma Empowerment, dan SDN 001 Lubuk Baja, yang diikuti oleh 286 siswa. Program ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini melalui pendekatan yang edukatif, interaktif, dan menyenangkan.

Rangkaian acara berlangsung dari pukul 10.00 hingga 11.30 WIB, diawali dengan pembukaan, doa bersama, serta sambutan dari pihak sekolah dan perwakilan Ascott. Suasana semakin hidup dengan sesi HARRIS Move, ice breaker bertema lingkungan, serta workshop edukasi bertajuk “Eco Heroes — Small Actions, Big Impact” yang disampaikan oleh tim Ascott.

Workshop kemudian dilanjutkan oleh Tanjunguma Empowerment dengan sesi edukasi mengenai cara memilah sampah, yang dikemas secara praktis dan mudah dipahami oleh anak-anak. Sesi ini dilengkapi dengan kuis dan permainan edukatif untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

Program Ascott Region Batam memeringati Environmental Education Day 2026.

Perwakilan Tanjunguma Empowerment, Winda, menegaskan pentingnya memulai edukasi lingkungan dari usia sekolah dasar. “Anak-anak adalah fondasi masa depan. Ketika kesadaran lingkungan ditanamkan sejak dini, nilai-nilai tersebut akan tumbuh menjadi kebiasaan positif hingga mereka dewasa,” ujar Winda.

Ia juga menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi dengan Ascott Region Batam.
“Kerja sama dengan Ascott Region Batam menjadi contoh kolaborasi yang nyata antara sektor swasta dan komunitas dalam menciptakan dampak berkelanjutan melalui edukasi yang relevan dan aplikatif.”

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilakukan serah terima donasi simbolis dari Ascott Region Batam kepada pihak sekolah berupa tempat sampah terpilah, eco-poster, eco-sticker, perlengkapan kebersihan, serta hadiah untuk kegiatan kuis. Acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kolaborasi dan komitmen bersama dalam menjaga lingkungan.

Melalui kegiatan ini, Ascott Region Batam menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam bidang pendidikan dan keberlanjutan lingkungan, sejalan dengan nilai Ascott Cares dalam menciptakan dampak positif bagi komunitas dan lingkungan di sekitar area operasionalnya. (*/hq1)

Pusat Sorot Ketimpangan di Kepri, Ibu Kotanya Tertinggal Jauh

Rapat koordinasi Kemenko Polkam di Batam.

Haqqnews.co.id Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) menyoroti ketimpangan pembangunan yang tajam di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Dominasi Kota Batam membuat wilayah lain di provinsi ini tertinggal jauh.

Data pemerintah pusat mencatat Kota Batam menguasai 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Kepri. Selain itu, lebih dari 50 persen populasi penduduk Kepri menumpuk di kota industri ini.

Asisten Deputi Koordinasi Administrasi Wilayah dan Kependudukan Kemenko Polkam, Kartika Adi Putranta, menegaskan kondisi ini tidak sehat bagi pemerataan. Wilayah lain seperti Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang belum berkembang seimbang meski berstatus ibu kota provinsi.

“Kemenko Polkam tidak hanya memperkuat pelaksanaan RPJMN 2025–2029, tetapi juga mencari fakta lapangan untuk menyempurnakan kebijakan pusat,” ujar Kartika dalam sebuah rapat koordinasi di Batam, Selasa (15/7/2025) silam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Kepri tumbuh 5,16 persen pada triwulan I 2025. Namun, Kemenko Polkam menilai angka pertumbuhan tersebut semu karena tidak merata ke seluruh kabupaten dan kota. Bahkan pada triwulan III ekonomi Kepri tumbuh hingga 7,48 persen tapi hal itu tidak merata.

Kartika juga menyoroti masalah klasik di wilayah kepulauan (hinterland). Rendahnya literasi digital, minimnya infrastruktur layanan publik, dan lemahnya koordinasi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) masih menjadi penghambat utama.

Pemerintah pusat mendesak Pemerintah Provinsi Kepri segera mencari skema pembiayaan alternatif. Ketergantungan pada dana fiskal konvensional harus dikurangi dengan menggandeng sektor swasta dan memperkuat kerja sama antardaerah.

Kemenko Polkam menargetkan Kepri menjadi model pembangunan wilayah perbatasan yang inklusif. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan akademisi menjadi syarat mutlak agar pembangunan tidak hanya berpusat di Batam. (*/hq1)

Catatan Merah Investasi Dana Publik di Empat BUMD Kepri

Kantor PT Pembangunan Kepri.

Haqqnews.co.id – Empat BUMD milik Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sudah menelan lebih dari Rp63 miliar modal disetor, tapi sampai APBD 2026 berjalan belum menyetor satu rupiah pun ke kas daerah. Empat BUMD itu adalah PT Pembangunan Kepri, PT Pelabuhan Kepri, Perumda Air Minum Tirta Kepri, dan PT Energi Kepri. Kontribusi pos “hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan” di APBD 2026 hanya Rp4 miliar atau sekitar 0,2 persen dari total PAD Rp1,84 triliun, jauh di bawah beban investasi ke BUMD.

Asisten II Setdaprov Kepri, Luki Zaiman Prawira (sekarang Pj. Sekdaprov Kepri), pernah mengungkap sedikit perkembangan tiga BUMD lama—PT Pembangunan Kepri, PT Pelabuhan Kepri, dan Perumda Tirta Kepri—yang baru sebatas keluar dari fase merugi.

“Kondisi ketiga BUMD kita sudah pulih atau membaik, tapi memang belum menghasilkan untuk PAD,” kata Luki pada Januari 2025 silam. Ia menjelaskan Perumda Tirta Kepri sudah mencatat laba, sementara PT Pembangunan Kepri dan PT Pelabuhan Kepri berada di titik impas.

“Saat ini, kedua BUMD itu sudah memiliki saldo di kasnya yang dapat digunakan untuk investasi. Yang penting mereka sudah bisa survive dan tidak mengalami defisit lagi. Itu sudah suatu kemajuan,” ujarnya.

Namun, seluruh laba dan saldo kas BUMD sejauh ini hanya cukup untuk menutup operasional dan rencana ekspansi, belum ada yang masuk ke APBD sebagai dividen.

Rekam Jejak Merugi: Dari Jual Mobil hingga Rugi Miliaran

PT Pembangunan Kepri berdiri tahun 2006 dan mulai beroperasi 2007. Pada 2010, perusahaan ini tidak punya anggaran operasional hingga terpaksa menjual mobil dinas dan meminta pinjaman ke pemerintah provinsi.

Tahun 2020, 17 anak perusahaan PT Pembangunan Kepri belum menghasilkan pendapatan sama sekali. Pendapatan induk hanya sekitar Rp35 juta per bulan, ditambah dividen BPR Kepri-Batam Rp200–400 juta per bulan, sementara biaya operasional mencapai Rp40 juta per bulan. Penyertaan modal yang sudah digelontorkan ke perusahaan ini mencapai Rp13,9 miliar.

PT Pelabuhan Kepri berdiri tahun 2013 dengan modal dasar Rp100 miliar dan modal disetor awal Rp25 miliar pada 2015. Perubahan aturan Kementerian Perhubungan membuat perusahaan ini tertahan dua tahun karena tidak memenuhi syarat modal BUP yang sempat dinaikkan menjadi Rp200 miliar.

Setelah bisa beroperasi, laporan keuangan menunjukkan perusahaan merugi Rp800 juta pada 2021 dan Rp3,6 miliar pada 2022, meski mendapat tambahan modal Rp19 miliar dari APBD. Sampai Oktober 2023, pendapatan PT Pelabuhan Kepri baru sekitar Rp200 juta atau 2 persen dari target Rp1 miliar. Total kerugian kumulatif BUMD ini diperkirakan menembus Rp7,7 miliar.

Perumda Air Minum Tirta Kepri, yang berdiri tahun 2008 dengan modal Rp4,4 miliar, juga merugi pada periode 2015–2017. Perusahaan ini baru mencatat surplus pada 2024, tetapi belum wajib menyetor dividen ke daerah karena cakupan layanan air bersihnya masih di bawah 70 persen pelanggan.

Sedangkan PT Energi Kepri merupakan BUMD termuda yang dibentuk lewat Perda Nomor 8 Tahun 2024 dengan modal dasar Rp20 miliar. Pemerintah baru menyetor Rp5 miliar pada 2025. Direksi dan komisaris dilantik pada Agustus 2025, dan perusahaan masih berada di tahap konsolidasi awal.

Tito Karnavian: BUMD Tak Boleh Lagi Jadi Beban APBD

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan pemerintah daerah soal banyaknya BUMD yang justru menjadi beban anggaran. Ia menyampaikan hal itu dalam Rakernas Apkasi di Batam, Januari 2026.

“BUMD harus mandiri dan tidak boleh menjadi beban keuangan daerah. Saat ini banyak BUMD masih menggantungkan keuangan kepada APBD. Ini harus diubah,” kata Tito.

Pesan itu relevan bagi Kepri, mengingat empat BUMD provinsi ini belum balik modal dan belum menyetor dividen, sementara APBD 2026 justru tertekan.

APBD Tertekan, BUMD Masih Nol Dividen

APBD Kepulauan Riau 2026 disahkan sebesar Rp3,31 triliun, turun Rp605 miliar dari tahun sebelumnya. Penurunan itu terutama karena transfer ke daerah dari pusat menyusut Rp495 miliar.

Untuk menutup defisit, Pemprov Kepri mengambil pinjaman daerah Rp250 miliar. Di saat yang sama, pos hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan hanya menyumbang Rp4 miliar ke PAD, meski investasi ke BUMD sudah jauh lebih besar dari angka itu.

Struktur PAD 2026 menunjukkan pajak daerah menyumbang Rp1,579 triliun atau 85,8 persen dari PAD Rp1,84 triliun. Retribusi daerah menyumbang Rp207,5 miliar, dan lain-lain PAD yang sah Rp53,1 miliar. Kontribusi BUMD praktis tidak terasa dalam komposisi pendapatan.

Potensi Migas dan Labuh Jangkar, Masih di Atas Kertas

Luki menyebut dua sumber andalan yang diharapkan bisa mengubah peta pendapatan BUMD: participating interest (PI) 10 persen di migas dan jasa labuh jangkar.

Di sektor migas, PT Pembangunan Kepri dan PT Energi Kepri menyiapkan diri sebagai pengelola PI 10 persen di wilayah kerja North West Natuna dan blok lain di Laut Natuna. Proyeksi pendapatan dari PI ini mencapai sekitar USD 6 juta atau Rp84 miliar per bulan jika produksi berjalan sesuai rencana. Dua kontraktor kontrak kerja sama dijadwalkan mulai berproduksi pada 2027, sehingga setoran PI baru bisa diharapkan setelah tahun tersebut.

Di sektor maritim, PT Pelabuhan Kepri mengelola dua titik labuh jangkar di Tanjung Berakit (Bintan) dan Kabil (Batam). Saat ini, pendapatan baru datang dari layanan logistik kapal, belum dari pungutan labuh jangkar penuh karena belum ada hak eksklusif dari Kementerian Perhubungan.

“Sektor labuh jangkar ini sangat potensial untuk meningkatkan PAD sekaligus perekonomian daerah. Makanya perlu terus digesa ke pusat agar Kepri dapat hak eksklusif mengelola labuh jangkar,” kata Luki.

Berbagai kajian memperkirakan jika hak pengelolaan penuh didapat dan tarif dikelola optimal, potensi pendapatan bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah per tahun.

DPRD Desak Evaluasi Total

DPRD Kepri menilai kinerja BUMD belum sepadan dengan besarnya dana publik yang sudah ditanamkan.

“Seharusnya BUMD bisa menjadi sumber penerimaan yang lebih besar bagi Pemprov Kepri. Namun hingga saat ini, kinerjanya belum menunjukkan hasil yang memuaskan,” kata anggota DPRD Kepri, Suhadi.

“Kami investasi miliaran rupiah, tapi hasilnya nol besar. Ini tidak bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Ketua Komisi II DPRD Kepri, Frenky Onsu, menambahkan bahwa optimalisasi penerimaan daerah menjadi keharusan di tengah penurunan transfer pusat.

“Tidak boleh ada lagi BUMD yang menjadi beban APBD. BUMD harus menjadi aset, bukan liabilitas,” tegas Frenky.

DPRD mendorong pemerintah provinsi melakukan audit kinerja dan audit keuangan independen terhadap seluruh BUMD, serta mengevaluasi direksi yang tidak mencapai target bisnis.

Menunggu Transformasi Nyata

Berbagai kajian menyebut BUMD dapat menjadi sumber PAD yang signifikan bila dikelola dengan tata kelola yang baik, manajemen profesional, dan fokus pada sektor unggulan daerah. Sejumlah contoh BUMD di daerah lain, seperti bank pembangunan daerah dan BPR milik kabupaten, terbukti mampu menyetor dividen miliaran rupiah per tahun ke kas daerah.

Di Kepri, transformasi empat BUMD provinsi baru sampai tahap “tidak rugi lagi”. Tantangannya, dalam beberapa tahun ke depan, adalah mengubah status itu menjadi “menghasilkan dan menyetor”.

Dengan tekanan APBD yang meningkat dan pesan keras Mendagri bahwa BUMD tak boleh lagi menjadi beban, Pemerintah Provinsi Kepri menghadapi ujian: apakah investasi Rp63 miliar ke BUMD akan tetap menjadi catatan merah, atau berubah menjadi sumber pemasukan yang nyata bagi daerah. (*/hq1)

Rahasia Kopi Tanpa Gula, Kini Enak Pakai Kayu Manis

Kopi kayu manis.

Haqqnews.co.id – Kayu manis kini jadi solusi bagi pencinta kopi yang ingin lepas dari gula. Rempah ini mampu memberikan sensasi manis tanpa menambah kalori.

Aroma kayu manis yang hangat menipu otak untuk merasakan manis, padahal tak ada gula yang masuk. Trik ini populer di kalangan pelaku diet sehat sepanjang 2025 hingga awal tahun 2026 ini.

Kayu manis tak hanya soal rasa. Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat membuktikan konsumsi kayu manis membantu menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2.

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal kesehatan Indonesia tahun 2025 menunjukkan pasien yang mengonsumsi ekstrak kayu manis mengalami penurunan gula darah dari 238,80 mg/dL menjadi 127,73 mg/dL. Efek ini mencegah lonjakan insulin setelah minum kopi sehingga tubuh tak mudah lapar atau ngidam camilan manis.

Riset lain dari Jurnal Ilmu Keperawatan tahun 2023 membuktikan pemberian seduhan bubuk kayu manis 3 kali sehari selama 3 hari efektif menurunkan kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes tipe II. Kayu manis juga tinggi antioksidan yang mampu mengurangi protein C-reaktif (CRP), sehingga menurunkan risiko serangan jantung hingga 15 persen.

Jangan Tabur di Atas Kopi

Banyak orang salah membuat kopi kayu manis. Mereka menaburkan bubuk kayu manis di atas kopi yang sudah jadi. Akibatnya, bubuk menggumpal dan meninggalkan tekstur berpasir di tenggorokan.

Cara yang benar: campurkan setengah sendok teh bubuk kayu manis ke dalam bubuk kopi sebelum diseduh. Air panas akan mengekstraksi rasa kayu manis bersama kopi, hasilnya lebih menyatu dan bersih.

Metode ini berlaku untuk semua alat seduh, mulai dari tubruk, French press, hingga mesin kopi otomatis. Untuk mesin otomatis, taburkan kayu manis di atas bubuk kopi dalam filter sebelum menyalakan mesin. (*/hq1)

Polisi dan Jaksa Dilarang Pidanakan Wartawan Tanpa Lewat Dewan Pers

Hakim Konstitusi M. Guntur Hamzah

Haqqnews.co.id – Mahkamah Konstitusi melarang polisi dan jaksa memeroses laporan pidana terhadap wartawan sebelum sengketa pers diselesaikan melalui Dewan Pers.

Ketua MK Suhartoyo mengetok putusan Nomor 145/PUU-XXIII/2025 dalam sidang pleno di Gedung MK Jakarta, Senin (19/1/2026) siang. MK mengabulkan sebagian gugatan uji materi Pasal 8 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang diajukan Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum).

Hakim Konstitusi M. Guntur Hamzah menyebut frasa “perlindungan hukum” dalam UU Pers selama ini hanya bersifat deklaratif. Akibatnya, banyak jurnalis dijerat pasal karet seperti UU ITE meski bekerja sesuai kode etik.

“Wartawan tidak dapat serta-merta dijerat sanksi pidana maupun perdata atas karya jurnalistiknya,” ujar Guntur saat membacakan putusan, Senin (19/1/2026).

Guntur menegaskan sengketa pemberitaan wajib diselesaikan melalui hak jawab, hak koreksi, dan mediasi Dewan Pers terlebih dahulu.

Polisi dan Jaksa Wajib Tolak Laporan

Putusan ini mewajibkan kepolisian dan kejaksaan menolak laporan terkait pemberitaan jika belum ada rekomendasi Dewan Pers. Jalur hukum pidana atau perdata hanya boleh ditempuh jika media melanggar hukum di luar ranah jurnalistik atau menolak rekomendasi Dewan Pers.

Ketua Umum Iwakum Irfan Kamil menyebut putusan ini kemenangan bagi kebebasan pers.

“Ini benteng konstitusional agar jurnalis tak lagi mudah dipenjara karena berita,” kata Irfan usai sidang, Senin (19/1/2026) sore.

“Polisi tidak boleh lagi main tangkap wartawan atas nama pencemaran nama baik tanpa verifikasi Dewan Pers.”

Paradigma Baru

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Hufron menilai putusan ini mengubah paradigma penanganan kasus pers. Pendekatan represif bergeser menjadi restoratif.

“Hukum kini bukan alat penghukuman, tapi sarana pemulihan nama baik melalui hak jawab,” jelas Hufron, Selasa (20/1/2026).

Putusan ini tidak bulat. Tiga hakim konstitusi—Saldi Isra, Daniel Yusmic, dan Arsul Sani—mengajukan pendapat berbeda. Namun, putusan tetap mengikat dan berlaku sejak diucapkan. (*hq1)