27.5 C
Riau Islands
Senin 24 Agustus 2026
BerandaKepriKala Dua Generasi Kopi Bertemu di Jantung Tanjungpinang

Batam

Kala Dua Generasi Kopi Bertemu di Jantung Tanjungpinang

Haqqnews.co.id – Angin malam yang berhembus dari arah Selat Riau terasa lebih jinak dari biasanya. Ia menyapu sisa terik yang sedari siang mendekap pekat Jalan Merdeka, Kota Tanjungpinang. Secara perlahan, wangi biji kopi yang disangrai mulai mengambil alih udara Kota Tua pada Minggu (23/8/2026) malam.

Ribuan pasang kaki melangkah pelan membelah aspal, menanggalkan penat di pengujung akhir pekan. Mereka berkumpul merayakan malam puncak Festival Kopi Merdeka 2026, sebuah perhelatan meriah yang telah menghidupkan urat nadi kawasan ini sejak Jumat (21/8/2026).

Fasad ruko berarsitektur indis dan pecinan peninggalan masa lampau berdiri gagah mengapit jalan, seolah ikut memeluk lautan manusia yang hadir. Pendar kuning dari lampu-lampu jalan bergaya klasik menerangi dinding-dinding tua yang kini telah bersolek rapi.

Kawasan niaga yang pada hari biasa sibuk dengan hiruk-pikuk bongkar perdagangan barang, sejenak menanggalkan wajah kakunya. Selama tiga hari perhelatan, jalanan aspal berubah menjadi ruang komunal yang luar biasa hangat bagi warga untuk sekadar duduk, tertawa, dan merayakan kebersamaan.

Di bawah salah satu tenda yang riuh oleh canda, asap mengepul pelan dari moncong teko kuningan yang mulai menghitam dimakan usia. Tangan keriput seorang paman dengan cekatan menarik saringan kain panjang tinggi-tinggi ke udara. Tarikan ritmis itu mencampur pekatnya kopi dan susu kental manis, menciptakan buih tebal di atas gelas kaca bergaya lawas. Tidak ada ketergesaan di sana. Atraksi Kopi Tarik ini bukan sekadar cara menyajikan minuman, melainkan sebuah ritus merawat budaya Kopitiam kuno yang telah mengakar dan menghangatkan obrolan warga Kepulauan Riau sejak puluhan tahun silam.

Hanya berjarak beberapa langkah dari riuhnya denting sendok sang paman, sebuah pemandangan kontras namun harmonis tersaji. Barista-barista muda berapron kanvas tebal menunduk khusyuk di balik stan berdesain kayu minimalis. Tangan mereka begitu stabil menuangkan air panas dari teko berleher angsa ke atas corong seduh V60. Tetesan demi tetesan meracik kopi single origin dengan tingkat presisi mutlak. Sesekali, mereka melempar senyum dan menawarkan mocktail kopi beraroma buah segar kepada sekelompok anak muda yang melintas penasaran.

Dua zaman itu beradu tanpa gesekan sedikit pun di sepanjang Jalan Merdeka. Kopi O tradisional yang sarat akan warisan leluhur, bebas berbagi ruang berekspresi dengan seduhan kekinian generasi third-wave. Di tengah jalanan yang telah disterilkan dari kendaraan bermotor, para pengunjung duduk santai. Mereka menggigit luti gendang yang masih hangat, menyeruput kopi pilihan masing-masing, sembari diayun oleh petikan gitar akustik yang mengalun syahdu dari panggung di sudut perempatan. Suasananya begitu cair, meleburkan batasan usia.

Malam itu, Tanjungpinang membuktikan bahwa mereka menemukan cara paling membumi untuk merawat ingatannya. Kota ini tidak mengunci sejarahnya di dalam gedung pameran yang kaku dan berjarak. Mereka justru menyeduhnya, menyajikannya hangat-hangat di atas jalanan bersejarah, dan membiarkan setiap warganya mencecap masa lalu sembari merangkul ritme masa depan dengan hati riang. (hq2)

Artikel Terbaru