Haqqnews.co.id – Anggota DPRD Kota Batam, Ir. Suryanto memeringatkan agar pesatnya investasi pusat data (data center) di Kota Batam, tidak melampaui kemampuan penyediaan air bersih. Laju masuknya modal asing harus sejalan dengan kesiapan infrastruktur dasar.
Batam kini memang menjadi magnet investasi data center dunia. Namun, Suryanto menyoroti ancaman krisis air di balik tren ini. Kebutuhan air bersih kawasan Nongsa saja diproyeksikan mencapai 450 liter per detik. Angka ini setara dengan memakan 39 juta liter air per hari.
Persoalan air ini bahkan sudah menjadi perhatian media asing seperti Kukmin Daily dari Korea Selatan. Warga Teluk Mata Ikan bahkan terbukti pernah mengalami krisis air hingga berbulan-bulan.
Suryanto menegaskan krisis ini menyangkut keadilan pembangunan. “Jangan sampai data center mendapatkan air bersih, sementara rakyat kesulitan mendapatkan air juga,” tegas Suryanto melalui unggahan di akun TikTok resminya yang dikutip pada Senin (14/9/2026).
BP Batam sebenarnya telah merancang solusi. Pemerintah membangun fasilitas desalinasi atau penyulingan air laut (SWRO) serta memisahkan jaringan air industri dan permukiman. Suryanto mengapresiasi langkah tersebut, tetapi hal itu menuntut visi jangka panjang.
Ia mendorong BP Batam dan investor melakukan penilaian bersama (joint assessment) terkait total kebutuhan air. Evaluasi ini wajib selesai sebelum investasi masuk. Batam juga mendesak penyusunan Rencana Induk Air (Water Master Plan) untuk 20 hingga 30 tahun ke depan.
Rencana induk tersebut harus memetakan lonjakan kebutuhan rumah tangga, data center, pariwisata, dan populasi penduduk. Infrastruktur harus siap menopang Batam sebagai kota global.
Suryanto memastikan pihaknya pro terhadap investasi. Meski begitu, ia memberi catatan kritis agar pemerintah bersikap terukur.
“Investasi tidak boleh berjalan lebih cepat daripada kemampuan kota menyediakan infrastrukturnya,” pungkas Suryanto. Ukuran kemajuan Batam bukan sekadar masuknya triliunan rupiah investasi, melainkan terjaminnya hak air bersih bagi seluruh warga. (hq3)
Editor: Akhmat


