back to top
26.6 C
Riau Islands
Rabu 11 Februari 2026
BerandaBatamSaat Jalur Resmi Macet, Bawang 'Bule' Jadi Primadona Dapur Kepri

Batam

Saat Jalur Resmi Macet, Bawang ‘Bule’ Jadi Primadona Dapur Kepri

HAQQNEWS.CO.ID – Pukul 04.00 pagi, hiruk-pikuk Pasar Tos 3000, Jodoh, Batam, sudah memuncak. Di sudut los basah, Mamat (45)__bukan nama sebenarnya__membawa karung jaring merah mencolok ke meja lapaknya.

Isinya bukan bawang merah Brebes yang kecil, melainkan bawang berukuran jempol orang dewasa, berwarna pucat kemerahan. Pedagang pasar menyebutnya “Bawang Birma”.

“Ini penyelamat, Bang. Kalau nunggu bawang Jawa, kapal tak masuk-masuk karena ombak tinggi. Kalaupun ada, harganya sudah Rp45 ribu modalnya. Ini saya bisa jual Rp28 ribu ke pembeli,” kata Mamat, akhir pekan lalu (20/12/2025).

Di tengah lonjakan harga sembako jelang Natal dan Tahun Baru di Provinsi Kepulauan Riau, komoditas yang diduga masuk tanpa dokumen pabean resmi ini justru menjadi buruan.

Impor bawang merah konsumsi sebenarnya diatur ketat untuk melindungi petani lokal. Barang yang masuk tanpa melalui Balai Karantina Pertanian berisiko membawa organisme pengganggu tumbuhan atau residu pestisida berlebih.

Sumiati (52)__bukan nama sebenarnya__pemilik katering di Batam Centre, mengakui legalitas urusan nomor sekian. Urusan nomor satu adalah dapur yang harus tetap mengepul dengan modal yang masuk akal.

“Minggu lalu saya cari bawang lokal, barangnya kosong. Ada sedikit, tapi banyak yang busuk karena mungkin banjir di Sumatra. Terus saya lihat ada bawang bombai merah sama bawang Birma. Ya sudah, saya ambil. Kalau pakai harga pasar resmi, katering saya rugi bandar,” tuturnya.

Sumiati mengakui rasa bawang ini tak sesedap bawang lokal. Lebih banyak air, kurang wangi. “Tapi kalau sudah digiling jadi bumbu rendang, siapa yang tahu?” ujarnya.

Ketergantungan Kepri pada pasokan luar membuat provinsi ini rentan. Ketika jalur logistik resmi dari Sumatra Utara dan Sumatra Barat lumpuh akibat banjir dan cuaca ekstrem akhir tahun ini, hukum penawaran-permintaan bekerja liar.

Seorang sumber di pelabuhan rakyat kawasan Barelang menuturkan, aktivitas “kapal hantu”—sebutan untuk speed boat fibreglass bermesin ganda yang biasa masuk malam hari—biasanya terpantau meningkat saat cuaca laut memburuk bagi kapal Roro resmi.

“Mereka (penyelundup) tahu pasar lagi teriak butuh barang. Ombak besar sedikit mereka terobos, karena untungnya berlipat ganda. Barangnya bukan cuma bawang, kadang gula, kadang sosis, sampai beras wangi,” ungkap sumber itu.

Barang-barang ini kemudian merembes ke pasar-pasar pinggiran, mengisi kekosongan pasokan resmi.

Risiko Kesehatan 

Peredaran bawang “Birma” ini ada risiko. Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri), drh. Herwintarti, menegaskan bahaya pangan ilegal. “Barang yang masuk tanpa lapor karantina tidak terjamin keamanannya. Kita tidak tahu apakah mengandung formalin, logam berat, atau hama penyakit yang bisa merusak di masa depan,” tegasnya.

Bea Cukai Batam sepanjang Desember ini menggelar operasi laut. Awal Desember lalu, ribuan karung bawang bombai ilegal ditemukan dibuang pemiliknya di kawasan Melcem, Batam, karena takut terjaring razia.

Namun, seperti memencet balon, ditekan di satu sisi, balon menggelembung di sisi lain. Selama kesenjangan harga antara barang legal yang langka dan barang ilegal yang murah masih menganga lebar, “Bawang Birma” tetap menjadi tamu tak diundang—tapi diharapkan—di meja makan warga Kepri.

Bagi Mamat dan Sumiati, ini bukan soal melanggar hukum, melainkan bertahan hidup di tengah badai harga. “Kami cuma mau masak, Pak. Kalau pemerintah bisa kasih barang resmi yang murah dan ada terus, ngapain kami beli kucing dalam karung?” pungkas Sumiati. (*/hq1)

Artikel Terbaru