Haqqnews.co.id – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi Kepulauan Riau melonjak hingga 20 persen pada 2025, tapi Tanjungpinang justru lesu. Wisman dari Singapura dan Malaysia hanya singgah singkat di Pulau Penyengat, lalu kembali menginap di Batam atau Bintan.
Akibatnya, ekonomi lokal nyaris tak bergerak. Hotel dan restoran sepi, UMKM lokal kesulitan untuk bertahan. Mereka wisman tanpa menginap, sektor akomodasi dan kuliner Tanjungpinang tak kebagian rezeki.
Data BPS mencatat wisman Kepri mencapai 1,7 juta orang sepanjang 2025. Batam menyerap 81 persen atau lebih dari 1 juta wisman hingga Agustus. Tanjungpinang hanya kebagian 62 ribu wisman, jauh dari target 100 ribu. Itu pun hanya singgah singkat di Penyengat.
Pola kunjungan wisman memperparah situasi. Mereka naik ferry dari Batam, lanjut pompong ke Penyengat. Di pulau bersejarah itu, mereka menghabiskan 15-30 menit mengunjungi Masjid Sultan Riau dan makam Raja Ali Haji, lalu pulang.
Hanya segelintir pelaku usaha yang diuntungkan. Ojek bentor dan kapal pompong meraup Rp500 ribu per hari saat ramai. Namun penghasilan itu tak cukup menggerakkan roda ekonomi kota.
Saat Penyengat Heritage Fest 2025, okupansi homestay sempat naik. Tapi di luar event, kondisi kembali sepi.
“Kami singgah Penyengat sekejap, lepas tu balik ke Batam petang ni,” ujar seorang wisman asal Johor Malaysia yang tergabung dalam sebuah grup wisman, Sabtu (31/1/2026).
PHK massal di jiran Singapura yang melemahkan ekonomi negara tetangga justru mendorong warganya berbelanja ke Batam, bukan Tanjungpinang. (hq1)

