back to top
29.4 C
Riau Islands
Jumat 22 Mei 2026
BerandaKepriHarta Karun Kepri Masuk Radar Danantara: Bauksit hingga Sedimentasi Laut

Batam

Harta Karun Kepri Masuk Radar Danantara: Bauksit hingga Sedimentasi Laut

Haqqnews.co.id Presiden Prabowo Subianto akan memusatkan seluruh pengelolaan kekayaan alam di Indonesia, termasuk Kepulauan Riau (Kepri) ke dalam Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Langkah strategis ini mencakup mineral darat hingga komoditas sedimentasi laut guna mengamankan kekayaan negara dari pelarian devisa.

Pemerintah menunjuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pengekspor tunggal komoditas strategis nasional. Kebijakan ini menyasar praktik manipulasi harga (under-invoicing) yang merugikan negara hingga US$150 miliar per tahun. “Penjualan semua hasil sumber daya alam kita… kita wajibkan melalui BUMN yang ditunjuk sebagai pengekspor tunggal,” tegas Presiden Prabowo, Rabu (20/05/2026), dalam pidatonya di DPR RI, Jakarta.

Kepulauan Riau sendiri memiliki cadangan mineral melimpah seperti timah di perairan Kundur dan Singkep, serta bauksit di Pulau Bintan dan Lingga. Aset pertambangan raksasa di Kepri yang sebelumnya di bawah MIND ID, seperti PT Timah Tbk dan PT Aneka Tambang (Antam), kini akan berada dalam koordinasi Danantara. Penambangan timah lepas pantai (offshore) tetap menjadi tumpuan utama produksi nasional di wilayah ini.

Selain mineral darat, pemerintah mengaktifkan kembali pengelolaan sedimentasi laut sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2023. Wilayah izin tambang laut di Kepri kini menguasai area seluas 132.000 Hektare lebih yang tersebar di Batam, Bintan, dan Karimun. Gubernur Kepri baru-baru ini disebut meresmikan satu perusahaan yang bergerak di sektor sedimentasi laut sebagai bagian dari optimalisasi ruang laut daerah.

Namun, kebijakan ini memicu pro dan kontra terkait keseimbangan ekonomi dan lingkungan. Peneliti kelautan memperingatkan potensi penguasaan laut oleh korporasi (ocean grabbing) yang membatasi akses nelayan tradisional. Kelompok masyarakat sipil mengkhawatirkan dampak tambang sedimentasi dapat merusak ekosistem pesisir dan habitat ikan.

CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan badan ini akan menjadi katalis utama bagi agenda hilirisasi nasional. Investasi awal senilai US$20 miliar akan difokuskan pada hilirisasi nikel, bauksit, dan tembaga untuk meningkatkan nilai tambah. Proyek seperti Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang melibatkan Antam di Bintan bakal menjadi prioritas investasi Danantara ke depan.

Danantara juga membentuk entitas baru bernama Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). BUMN ini bertugas mengambil alih pengelolaan tambang-tambang strategis, termasuk konsesi yang izinnya dicabut karena pelanggaran aturan. Dengan total aset yang diproyeksikan mencapai US$900 miliar, Danantara diharapkan mampu mentransformasi BUMN menjadi pemimpin ekonomi kelas dunia. (*/hq1)

Artikel Terbaru