Haqqnews.co.id – Ekonomi Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kian melambat dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhannya, bahkan disebut terendah di Kepri dengan hanya 2,9 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tanjungpinang, tercatat ekonomi Tanjungpinang tumbuh 3,78 persen pada 2024, lebih lambat dibanding 2023 yang tumbuh 4,92 persen.
Terbaru, Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura menyebut pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang hanya 2,9 persen. Hal itu Nyanyang ungkapkan dalam Rapimprov Kadin Kepri, bulan November 2025 lalu.
Walaupun di tingkat provinsi, BPS Kepulauan Riau mencatat ekonomi Kepri tumbuh 7,48 persen pada Triwulan III 2025 (year-on-year). Pertumbuhan Kepri itu lebih ditopang oleh industri pengolahan, pertambangan, serta investasi (PMTB) di Batam serta Migas di Natuna.
Penyebab Kelesuan
Dalam data BPS, struktur ekonomi Tanjungpinang masih bergantung pada komponen pengeluaran, termasuk belanja pemerintah, sehingga ekonomi kota mudah melambat saat realisasi anggaran tersendat.
Belum lagi tekanan harga yang menahan konsumsi. Pada Desember 2025, BPS mencatat inflasi bulanan Tanjungpinang 1,28 persen (month-to-month), lebih tinggi dibanding Batam 1,14 persen. Sejumlah laporan menjelaskan kenaikan harga pangan dan emas ikut mendorong tekanan inflasi di Kepri pada awal 2026.
Sejumlah forum dan pembahasan daerah di Tanjungpinang menyoroti hambatan investasi seperti lahan dan infrastruktur, yang membuat investasi belum memberi dorongan besar bagi pertumbuhan Tanjungpinang. (*/hq1)

