Haqqnews.co.id – Deru mesin dari kawasan industri yang ada Mukakuning seolah beresonansi lebih kencang tahun ini. Ribuan kontainer bongkar muat bergantian tanpa jeda di Pelabuhan Batuampar, Kota Batam. Denyut keringat dan kesibukan kota pulau ini terekam dalam satu angka pasti, dengan pertumbuhan ekonomi Batam melesat hingga 7,28 persen.
Capaian tersebut bukan sekadar statistik triwulan II 2026, sebagaimana pernyataan resmi BP Batam, pada Senin (7/9/2026). Angka ini berlari meninggalkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau, bahkan melampaui capaian nasional secara telak. Grafik menanjak tersebut kembali mengukuhkan posisi Batam sebagai magnet utama perputaran modal di gerbang barat Indonesia.
Namun, angka impresif ini mendapat catatan tajam dari balik meja Wakil Kepala Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), Li Claudia Chandra. Li yang juga Wakil Wali Kota Batam itu menolak terjebak dalam euforia statistik. Ia membedah data makro tersebut dengan satu indikator mutlak, yaitu bagaimana nasib masyarakat di akar rumput.
“Kita tidak sedang merayakan grafik di atas kertas. Pertumbuhan 7,28 persen pada triwulan II 2026 ini baru memiliki ruh jika masyarakat Batam merasakan manfaat nyatanya secara langsung,” tegas Li Claudia Chandra. Ia menuntut lompatan persentase tersebut segera mewujud menjadi perbaikan taraf hidup warga, dari pesisir hingga permukiman padat.
Baginya, indikator keberhasilan sejati tidak diukur dari riuh tepuk tangan investor di ruang rapat berpendingin udara. Keberhasilan itu diuji dari kemampuan kota menyerap tenaga kerja lokal. Pertumbuhan ekonomi harus terlihat dari menguatnya daya beli ibu-ibu di pasar tradisional setiap pagi.
Kini, tantangan terbesar BP Batam terbentang jauh di luar gedung instansi. Angka 7,28 persen telah berubah menjadi cambuk sekaligus komitmen kerja ke depan. Batam akan terus memacu laju industrinya, dengan satu syarat tak tertulis bahwa tidak boleh ada satupun warganya yang tertinggal di tengah deru kemajuan kota. (hq5)
Editor: Arham


