back to top
28.3 C
Riau Islands
Kamis 9 April 2026
BerandaBisnisSatu per Satu Brand Besar Tinggalkan Ibu Kota Kepri

Batam

Satu per Satu Brand Besar Tinggalkan Ibu Kota Kepri

Ritel, Industri, dan Perbankan Kompak Kurangi Operasi dalam Dua Tahun Terakhir

Haqqnews.co.id Satu per satu brand besar mulai meninggalkan Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Matahari Department Store sudah menutup gerai sejak 2025. Pabrik Teh Prendjak bersiap memindahkan pabriknya. Bank OCBC NISP juga disebut akan menutup cabangnya pada Mei 2026.

Rangkaian penutupan ini menunjukkan perubahan arah bisnis di ibu kota Kepri tersebut. Dalam waktu berdekatan, sektor ritel, industri, dan perbankan sama-sama mengurangi kehadiran fisik.

Matahari lebih dulu menghentikan operasional gerai di Tanjungpinang City Center pada 1 Mei 2025. Anggota DPRD Kepulauan Riau Rudy Chua menyebut kinerja penjualan tidak mencapai target. “Omset mereka di bawah target, juga sepi,” kata Rudy.

Ia menilai penutupan itu berdampak pada aktivitas pusat perbelanjaan. Tenant utama biasanya menarik pengunjung dan menopang gerai lain.

Di sektor industri, PT Panca Rasa Pratama, produsen Teh Prendjak, sempat menghentikan produksi akibat gangguan akses ke pabrik. Perusahaan itu kini disebut akan menutup operasional pada 2026 setelah aktivitas produksi tidak stabil. Prendjak disebut akan memindahkan pabriknya ke Pulau Jawa.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan usaha juga menjangkau sektor pengolahan. Gangguan operasional mendorong perusahaan meninjau ulang keberlanjutan bisnisnya.

Sementara itu, Bank OCBC NISP kini menjadi perhatian publik. Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau Rudy Chua mengatakan pihaknya menerima informasi rencana penutupan cabang di Tanjungpinang pada Mei 2026. “Kami mendapat pengaduan dari warga terkait rencana penutupan Bank OCBC NISP cabang Tanjungpinang,” ujarnya.

Kabar itu muncul seiring keluhan nasabah terkait layanan penarikan valuta asing. Sebagian nasabah mulai memindahkan dana untuk menjaga kelancaran transaksi.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu pola yang sama. Pelaku usaha memilih menutup gerai, menghentikan produksi, atau mengalihkan layanan ke kota lain.

Hingga kini, pemerintah daerah belum merilis data resmi dampak terhadap tenaga kerja dan investasi. Namun, perkembangan ini menjadi perhatian karena melibatkan sektor-sektor utama yang selama ini menopang aktivitas ekonomi Tanjungpinang. (*/hq1)

Artikel Terbaru