Beranda Batam Harapan yang Mengembang Bersama Adonan: Kisah Tefa Roti SMKN 2 Batam

Harapan yang Mengembang Bersama Adonan: Kisah Tefa Roti SMKN 2 Batam

Produksi Tefa Roti di SMKN 2 Batam.

Haqqnews.co.id – Pukul 09.00 WIB, Rabu (13/11/2025), ruang praktik kuliner SMKN 2 Batam dipenuhi aroma roti hangat yang baru keluar dari oven. Di tengah deretan mesin mixer berkapasitas besar dan oven industri yang megah, Elvin Devita Putri Daci, siswi kelas XII, dengan gerakan cekatan melipat plastik pembungkus roti. Tangannya terlatih, matanya fokus—tak ubahnya pekerja profesional di pabrik roti komersial.​

“Kalau dari pabrik harganya Rp 4.500, saya bisa jual Rp 6.000. Jadi saya untung Rp 1.500,” ucapnya dengan senyum bangga.​

Di balik angka keuntungan sederhana itu, tersimpan pembelajaran yang jauh lebih berharga: tentang kemandirian, kewirausahaan, dan kesiapan menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.​

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, menyebut Tefa Roti sebagai “mutiara terpendam” yang belum sepenuhnya terlihat oleh masyarakat Batam. Padahal, kualitas produk yang dihasilkan mampu bersaing dengan roti komersial yang dijual di pasaran.​

Kunjungan Khafi ke ruang produksi Teaching Factory (Tefa) Roti membuka pandangannya terhadap potensi besar yang dimiliki siswa jurusan kuliner. Dengan mesin modern bantuan pemerintah pusat senilai Rp 200 juta, para siswa memeroduksi roti secara profesional—mulai dari mengolah adonan, proses fermentasi, hingga pemanggangan menggunakan oven berkapasitas industri.​

“Roti yang dihasilkan lembut, aromanya wangi, dan kualitasnya tidak kalah dari roti komersial,” ujar Khafi.​

Namun, di balik kualitas produk yang menjanjikan, ada satu masalah mendasar yang menghalangi: keterbatasan jangkauan pemasaran.​

Kapasitas Produksi Tinggi, Jangkauan Pasar Terbatas

Setiap hari, unit Teaching Factory Tata Boga SMKN 2 Batam mampu memproduksi 600–700 kue, termasuk roti. Tefa Roti sendiri rutin memproduksi 300–600 picis sesuai permintaan, dikerjakan secara bergiliran oleh tim berisi 6–8 siswa. Pernah dalam satu waktu, mereka menerima pesanan hingga 1.500 picis per hari.​

Pengelola Tefa Roti, Eka Wuladari, menuturkan bahwa produk ini telah memiliki hak paten sejak 2023. Dengan sembilan guru kuliner yang mengawal proses pembelajaran, dari sisi kualitas dan kesiapan produksi, Tefa Roti tidak kalah dari pelaku usaha roti di luar sekolah.​

Target produksi sebenarnya bisa mencapai 2.000 picis per hari. Namun, pemasaran yang masih terbatas pada sekolah-sekolah sekitar menjadi kendala utama. Promosi dilakukan melalui brosur, Instagram, WhatsApp, dan upaya siswa yang menjual langsung ke lingkungan sekitar.​

“Saya berharap anak-anak bisa menjadi pengusaha sukses setelah lulus,” harap Eka.​

Yang membedakan Tefa Roti dengan kursus memasak biasa adalah penerapan konsep Teaching Factory, yakni model pembelajaran yang meniru suasana dan proses kerja di industri sesungguhnya. Siswa tidak hanya belajar teknik baking, tetapi juga manajemen produksi, komunikasi dengan pelanggan, strategi pemasaran, hingga mengelola kritik sebagai bahan evaluasi.​

Kepala SMKN 2 Batam, Drs. Refio, M.Pd., menjelaskan bahwa melalui mata pelajaran kewirausahaan, siswa diwajibkan memasarkan produk mereka kepada tetangga, keluarga, hingga warung sekitar rumah sebagai bagian dari penilaian. Mereka juga dilatih menerima kritik dari pelanggan sebagai sarana perbaikan kualitas produk.​

“Tanpa dukungan industri, percuma SMK mencetak tenaga kerja,” tegas Refio.​

Sekolah terus memperluas jangkauan pemasaran, mulai dari perusahaan Epson, sekolah-sekolah sekitar, hingga kantin Politeknik. Respons pasar pun positif, meski kendala geografis di beberapa wilayah Batam membuat distribusi pesanan belum maksimal.​

Ketua PWI Batam M. A. Khafi Anshary mengunjungi Tefa Roti SMKN 2 Batam.
Batam Butuh Kolaborasi Pemerintah dan Industri

Khafi menilai, Batam sebagai kota industri memiliki banyak perusahaan yang bisa menjadi mitra pemasaran, namun akses tersebut sulit dijangkau tanpa kolaborasi pemerintah. Ia menyayangkan kurangnya keterlibatan pemerintah dalam membantu produk karya siswa dikenal lebih luas.​

“Setiap kegiatan pemerintah pasti membutuhkan konsumsi. Roti ini bisa menjadi salah satu pilihan,” ujarnya.​

Dukungan pemerintah bukan hanya akan memperluas pemasaran, tetapi juga mendongkrak kepercayaan diri siswa saat terjun ke dunia kerja. Khafi berkomitmen melalui PWI untuk menghadirkan ruang publikasi positif bagi dunia pendidikan Kota Batam, agar prestasi sekolah yang selama ini tidak terekspos bisa dikenal masyarakat luas.​

“Kami berharap Tefa Roti bisa lebih maju dan dikenal seluruh Batam,” kata Elvin dengan mata berbinar.​

Harapan sederhana namun besar itu bukan hanya milik Elvin, tetapi juga ratusan siswa SMKN 2 Batam yang setiap hari belajar tidak hanya dari buku, tetapi dari pengalaman nyata berbisnis. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, keterampilan praktis dan pengalaman langsung adalah modal utama.​

Di ruang produksi yang dipenuhi aroma roti hangat itu, mimpi-mimpi kecil sedang dirajut. Mimpi tentang kemandirian, tentang wirausaha, tentang masa depan yang lebih cerah. Dan mungkin, dengan sedikit perhatian lebih dari pemerintah, masyarakat, dan dunia industri, mutiara terpendam ini akan benar-benar bersinar terang di tengah gemerlap Kota Batam.​

SMKN 2 Batam merupakan SMK Pusat Keunggulan yang memiliki berbagai jurusan unggulan, termasuk perhotelan, kuliner, tata kecantikan dan spa, usaha layanan pariwisata, dan tata busana. Sekolah ini telah meraih berbagai penghargaan, termasuk Lomba Kompetensi Siswa Tingkat Nasional dan menjadi Pusat Belajar untuk Kompetensi Perjalanan Wisata.

Bertuah Edotel: Hotel Latihan yang Melahirkan Profesional

Tak hanya kuliner, SMKN 2 Batam juga memiliki unit bisnis lain yang tak kalah menarik: Bertuah Edotel, hotel edukasi dengan sembilan kamar berfasilitas lengkap seperti TV, wifi, dan air panas, dibanderol Rp 200 ribu per malam.​

Hotel ini diresmikan oleh Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, pada 14 November 2022 sebagai wahana praktik langsung siswa-siswi jurusan perhotelan. Meski letaknya tidak di pusat keramaian, Bertuah Edotel menjadi tempat singgah favorit tamu-tamu dari dunia pendidikan.​​

Siswa perhotelan bertanggung jawab menjalankan hotel secara langsung, mulai dari front office, housekeeping, hingga shift malam, di bawah pendampingan guru dan persetujuan orang tua. Meski tidak menerima gaji, pengalaman ini menjadi bekal berharga saat mereka memasuki dunia kerja.​

Edotel sempat vakum, namun kini kembali aktif setelah penataan fasilitas dan akses diperbaiki. Hasilnya nyata—banyak siswa yang bahkan sudah direkrut hotel sebelum lulus.​

Link and Match: Menjembatani Sekolah dengan Dunia Kerja

Konsep Teaching Factory yang diterapkan SMKN 2 Batam sejalan dengan program Link and Match yang digagas Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pendidikan. Program ini bertujuan mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri dengan mengintegrasikan kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.​

Melalui pendekatan ini, proses pendidikan tidak lagi terpisah dari dunia kerja, tetapi menyatu sejak awal dalam perjalanan belajar siswa. Lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai keterampilan teknis dan soft skill yang dibutuhkan di lapangan kerja.​

Sejak diluncurkan tahun 2017, program link and match telah menggandeng lebih dari 400 ribu siswa-siswi SMK di seluruh Indonesia. Hingga tahap kesepuluh peluncuran program ini, jumlah SMK yang terlibat telah mencapai 4.971, jauh melampaui target awal.​ (hq1)

Exit mobile version