Haqqnews.co.id – Masyarakat Indonesia semakin gencar menguras simpanan bank untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Data terbaru menunjukkan rata-rata nominal tabungan nasabah kecil terus merosot tajam.
Riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mencatat rata-rata saldo rekening di bawah Rp100 juta kini hanya menyisakan Rp1,7 juta per Mei 2026. Angka ini turun drastis dari posisi tahun 2018 yang masih berada pada level Rp3,1 juta per rekening.
Masyarakat terpaksa menggunakan dana cadangan karena kenaikan biaya hidup melampaui pertumbuhan pendapatan. Kondisi ini memicu fenomena dissaving atau pengurangan porsi pendapatan untuk tabungan demi menjaga konsumsi.
“Artinya lebih banyak tabungan yang dipakai dibandingkan yang mereka akumulasikan,” ujar Chief Economist Perbanas, Winang Budoyo, dalam forum di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Survei Konsumen Bank Indonesia (SKBI) Juni 2026 memperkuat indikasi ini. Kelompok pengeluaran Rp2,1 juta-Rp3 juta kini menghabiskan 75,2 persen pendapatannya hanya untuk konsumsi.
Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas Tarihoran menyebut kenaikan inflasi pangan dan energi menjadi pemicu utama. Fenomena ini diperparah oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur dan perdagangan.
“Mereka kehilangan pekerjaan atau beralih ke pekerjaan dengan upah lebih rendah, sementara pengeluaran stabil,” imbuh Horas.
Tekanan ekonomi juga memaksa warga beralih ke pinjaman untuk bertahan hidup. Utang pinjaman daring (pinjol) melonjak 25,75 persen secara tahunan menjadi Rp100,69 triliun pada Februari 2026. Penggunaan layanan paylater bahkan tumbuh liar hingga 86,7 persen mencapai Rp56,3 triliun pada periode yang sama.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memeringatkan risiko jutaan kelas menengah turun kasta menjadi kelompok rentan miskin. Jumlah kelas menengah Indonesia sudah menyusut dari 60 juta orang pada 2018 menjadi 47,9 juta pada 2024.
“Ruang belanja untuk pendidikan, kesehatan, dan investasi menjadi semakin sempit,” tutur Josua.
Kondisi ini mengancam stabilitas ekonomi nasional jangka panjang. Konsumen kini berubah menjadi lebih kritis dan hanya fokus pada kebutuhan esensial.
Sektor perbankan juga menghadapi risiko kenaikan kredit bermasalah atau NPL. Bank kini harus bekerja lebih keras menjaga efisiensi dan menyaring sektor pembiayaan yang lebih kuat. (*/hq1)
